JAKARTA, Cobisnis.com – Banyak pemilik rumah di Amerika Serikat masih menunggu penurunan suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR). Namun, harapan untuk memperoleh cicilan yang lebih ringan terus tertunda karena tingkat bunga tetap tinggi.
Salah satunya adalah Patrice De La Ossa. Ia menjual rumahnya di Phoenix dan pindah ke Tucson setelah putranya diterima di University of Arizona. De La Ossa ingin membantu putranya menyelesaikan kuliah tanpa utang mahasiswa. Karena itu, ia memilih tinggal lebih dekat ke kampus untuk menghemat biaya tempat tinggal dan kebutuhan sehari-hari.
Namun, keputusan tersebut membuatnya harus melepas KPR lama dengan bunga 2,25 persen. Sebagai gantinya, ia mengambil pinjaman baru dengan bunga 6,8 persen.
Saat itu, De La Ossa memperkirakan kondisi tersebut hanya bersifat sementara. Ia yakin suku bunga akan segera turun sehingga dapat melakukan refinancing dengan cicilan yang lebih rendah.
Meski begitu, harapan tersebut belum terwujud. Lebih dari empat tahun berlalu sejak kepindahannya, putranya telah lulus kuliah, tetapi bunga KPR yang ia bayarkan masih berada di level 6,8 persen.
Kondisi serupa juga dialami banyak pemilik rumah lainnya di Amerika Serikat. Pada awal pandemi Covid-19, suku bunga KPR sempat turun hingga di bawah 3 persen. Akibatnya, banyak pemilik rumah memanfaatkan momentum tersebut untuk melakukan refinancing dan menekan biaya cicilan bulanan.
Sementara itu, analisis Redfin terhadap data Federal Housing Finance Agency (FHFA) menunjukkan perubahan signifikan di pasar perumahan. Untuk pertama kalinya sejak pandemi, jumlah pemilik rumah dengan bunga KPR di atas 6 persen kini lebih banyak dibandingkan mereka yang menikmati bunga di bawah 3 persen.
Karena itu, banyak pemilik rumah masih menunggu kesempatan untuk melakukan refinancing. Namun, selama suku bunga tetap tinggi, mereka harus mempertahankan cicilan yang lebih besar dibandingkan yang mereka harapkan saat mengambil pinjaman beberapa tahun lalu.













