JAKARTA, Cobisnis.com – Isu kenaikan harga BBM non subsidi per 1 April 2026 ramai beredar di media sosial, namun PT Pertamina (Persero) memastikan informasi tersebut tidak benar dan belum ada pengumuman resmi.
Kabar yang menyebar luas di platform seperti X, TikTok, Instagram, hingga WhatsApp memuat daftar proyeksi harga BBM terbaru yang disebut akan berlaku mulai awal April 2026. Informasi ini langsung memicu kekhawatiran di masyarakat.
Dalam data yang beredar, sejumlah jenis BBM non subsidi disebut mengalami kenaikan cukup signifikan. Pertamax diklaim naik Rp5.500 menjadi Rp17.850 per liter, sementara Pertamax Green disebut naik Rp6.250 menjadi Rp19.150 per liter.
Selain itu, Pertamax Turbo dikabarkan naik Rp6.350 menjadi Rp19.450 per liter. Sementara untuk solar non subsidi, Dex disebut melonjak Rp9.450 menjadi Rp23.950 per liter, dan Dexlite naik ke Rp23.650 per liter.
Besarnya angka kenaikan tersebut langsung menjadi perhatian publik karena berpotensi berdampak pada biaya transportasi hingga harga barang. Banyak warganet mulai berspekulasi soal efek lanjutan terhadap inflasi.
Menanggapi hal ini, Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, menegaskan bahwa informasi yang beredar tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Ia menyebut hingga saat ini belum ada keputusan resmi terkait perubahan harga BBM per 1 April 2026. Pertamina juga belum mengumumkan kebijakan apapun terkait penyesuaian harga.
Menurutnya, masyarakat diimbau untuk tidak langsung mempercayai informasi yang belum jelas sumbernya. Apalagi jika data tersebut hanya beredar melalui media sosial tanpa konfirmasi resmi.
Pertamina menegaskan bahwa seluruh informasi valid terkait harga BBM hanya diumumkan melalui saluran resmi perusahaan, termasuk situs web pertamina.com dan kanal komunikasi resmi lainnya.
Di tengah situasi ini, pemerintah juga sebelumnya mengingatkan publik agar tidak berspekulasi terkait kebijakan energi. Stabilitas informasi dinilai penting untuk menjaga kondisi ekonomi tetap kondusif.
Isu seperti ini dinilai sensitif karena menyangkut kebutuhan sehari-hari masyarakat luas. Kenaikan harga BBM, terutama non subsidi, sering kali berdampak langsung pada biaya hidup dan daya beli.
Pertamina menutup pernyataannya dengan mengajak masyarakat untuk tetap bijak dalam menggunakan energi. Selain itu, publik diharapkan lebih selektif dalam menerima dan menyebarkan informasi.













