JAKARTA, Cobisnis.com – Uang mengalir bebas dalam tatanan dunia baru atletik perguruan tinggi di Amerika Serikat, dan tidak mengejutkan jika perjudian turut memainkan peran di dalamnya. Inti dari permasalahan ini terkubur dalam dakwaan federal terhadap lebih dari belasan pemain bola basket kampus yang terlibat pengaturan skor (match-fixing).
Para pelaku skema ini menargetkan pemain NCAA yang pembayaran suapnya akan secara signifikan menambah atau bahkan melebihi peluang pendapatan sah dari NIL (Name, Image, and Likeness). Di saat pemain bintang mendapatkan tawaran jutaan dolar untuk tetap bermain di kampus, para penjudi justru mencari mangsa di sekolah-sekolah kecil seperti Delaware State atau Kennesaw State, di mana perhatian publik minim dan bayaran untuk pemain hampir tidak ada.
Dengan imbalan sebesar $20.000 hingga $30.000, para penjudi memasang taruhan ratusan ribu dolar pada pertandingan yang hampir pasti mereka menangkan. Namun, skema ini ditakdirkan gagal karena kecerobohan para pemain yang mengirim pesan teks terlacak mengenai pengaturan skor tersebut. Salah satu kutipan dalam dakwaan menunjukkan bagaimana seorang pelaku menekan pemain untuk memastikan timnya kalah telak demi memenangkan taruhan.
NCAA sendiri telah berupaya keras menjaga integritas dengan melarang taruhan pada olahraga profesional bagi atlet dan staf, serta memberikan edukasi perjudian setiap pra-musim. Meski demikian, dakwaan tersebut mencatat ada 39 pemain dari 17 sekolah berbeda yang mencoba mengatur 29 pertandingan. Mereka melakukan ini bukan karena tidak peduli pada permainan, tetapi karena melihat uang beredar luas di mana-mana kecuali di dompet mereka sendiri.
Kapitalisme telah tiba di atletik perguruan tinggi tanpa adanya kesepakatan bersama atau keteraturan. Ketika kesenjangan pendapatan antar rekan satu tim semakin lebar di mana satu pemain bisa menghasilkan $1 juta sementara yang lain jauh di bawahnya tawaran untuk sengaja meleset dalam lemparan bebas demi uang tambahan menjadi godaan yang sulit ditolak.














