JAKARTA, Cobisnis.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump memanggil jajaran petinggi perusahaan minyak besar AS ke Gedung Putih untuk membahas rencana investasi energi di Venezuela. Langkah ini disebut sebagai upaya menghidupkan kembali sektor minyak negara tersebut.
Dalam pertemuan itu, hadir sejumlah nama besar industri migas AS. Mereka antara lain CEO Exxon Darren Woods, CEO ConocoPhillips Ryan Lance, Wakil Ketua Chevron Mark Nelson, serta eksekutif dari Halliburton, Valero, dan Marathon.
Trump menyatakan perusahaan-perusahaan tersebut siap menggelontorkan investasi dalam jumlah besar. Nilainya disebut mencapai sedikitnya US$ 100 miliar atau setara Rp 1.684 triliun dengan kurs Rp 16.842 per dolar AS.
Dana tersebut akan difokuskan untuk membangun kembali infrastruktur dan produksi sektor energi Venezuela yang selama bertahun-tahun mengalami penurunan drastis.
Pemerintah AS, menurut Trump, akan memberikan jaminan keamanan dan perlindungan bagi perusahaan minyak yang berinvestasi. Skema ini dirancang agar investor dapat balik modal dan memperoleh keuntungan.
Venezuela diketahui memiliki cadangan minyak mentah terbukti terbesar di dunia. Totalnya mencapai 303 miliar barel atau sekitar 17 persen dari cadangan minyak global.
Namun, kondisi sektor minyak Venezuela saat ini dinilai sangat memprihatinkan. Produksi yang dulu sempat mencapai puncak kini anjlok tajam akibat minim investasi dan masalah infrastruktur.
Data perusahaan konsultan energi Kpler menunjukkan produksi minyak Venezuela turun dari sekitar 3,5 juta barel per hari pada 1990-an menjadi hanya sekitar 800.000 barel per hari saat ini.
Sementara itu, Rystad Energy memperkirakan dibutuhkan dana lebih dari US$ 180 miliar hingga 2040 agar produksi Venezuela bisa kembali ke level 3 juta barel per hari.
Masuknya perusahaan minyak AS dinilai berpotensi mengubah peta energi kawasan Amerika Latin. Selain berdampak ekonomi, langkah ini juga memiliki dimensi geopolitik yang kuat.
Bagi AS, investasi ini bukan hanya soal bisnis energi, tetapi juga pengaruh strategis di negara dengan cadangan minyak terbesar dunia.













