JAKARTA, Cobisnis.com – Saham RLCO menjadi sorotan pasar setelah mencatat kenaikan harga ekstrem hingga menyentuh level 5.000. Pergerakan ini terjadi setelah saham tersebut mengalami auto reject atas (ARA) sebanyak 19 kali berturut-turut.
Lonjakan tersebut mendorong potensi imbal hasil hingga 2.876,2 persen. Angka ini langsung menarik perhatian investor ritel, terutama mereka yang masuk di harga awal dengan modal relatif kecil.
Di media sosial, RLCO ramai diperbincangkan sebagai contoh saham yang mampu mengubah nilai investasi puluhan ribu rupiah menjadi ratusan ribu rupiah dalam waktu singkat. Fenomena ini memperkuat narasi euforia di kalangan ritel.
Kenaikan tajam RLCO mencerminkan tingginya minat beli yang tidak diimbangi dengan tekanan jual. Kondisi ini membuat harga saham terus terkunci di batas atas perdagangan harian.
Dalam konteks pasar, pergerakan ekstrem seperti ini kerap terjadi pada saham berkapitalisasi kecil dengan likuiditas terbatas. Dorongan sentimen sering kali menjadi faktor utama, bukan perubahan fundamental jangka pendek.
Otoritas bursa sendiri memiliki mekanisme ARA untuk menjaga stabilitas perdagangan. Namun, ketika ARA terjadi beruntun, volatilitas tetap menjadi risiko yang harus dipahami investor.
Analis menilai, lonjakan harga signifikan berpotensi mengundang aksi ambil untung ketika momentum mulai melemah. Hal ini bisa memicu koreksi cepat dalam waktu singkat.
Fenomena RLCO juga mencerminkan meningkatnya partisipasi investor ritel di pasar modal. Akses digital dan informasi yang cepat membuat pergerakan saham tertentu bisa viral dalam waktu singkat.
Meski menawarkan potensi keuntungan besar, saham dengan kenaikan ekstrem tetap menyimpan risiko tinggi. Perubahan sentimen bisa langsung berdampak pada pergerakan harga.
Dengan kondisi tersebut, investor diimbau tetap mengedepankan manajemen risiko dan memahami karakter saham sebelum mengambil keputusan investasi.














