JAKARTA, Cobisis.com – Penelitian mikroorganisme berbahaya membutuhkan sistem keamanan yang sangat ketat karena kesalahan dalam laboratorium dapat membawa risiko bagi manusia di luar fasilitas.
Dikutip dari kanal YouTube Kok Bisa?, Rabu (30/09/2026), semakin tinggi kemampuan suatu patogen untuk menginfeksi dan menyebabkan penyakit serius, semakin tinggi pula tingkat keamanan yang dibutuhkan untuk menanganinya.
Salah satu contoh mikroorganisme dengan risiko tinggi adalah Ebola yang dapat menyebabkan penyakit berat dan membutuhkan pengamanan khusus ketika diteliti.
Peneliti yang menangani patogen berbahaya harus menggunakan perlengkapan pelindung yang sangat tertutup, bahkan menyerupai pakaian astronot dan terhubung dengan selang untuk suplai udara.
Fasilitas dengan tingkat keamanan paling tinggi juga dirancang dengan berbagai lapisan perlindungan, mulai dari dinding, pintu, hingga sistem ventilasi.
Lokasinya biasanya sangat terkontrol dan dapat ditempatkan jauh dari area pemukiman untuk mengurangi risiko apabila terjadi keadaan darurat.
Peneliti juga tidak dapat bekerja sendirian karena harus ada orang lain yang dapat membantu jika terjadi masalah selama proses penelitian.
Limbah hasil penelitian tidak boleh langsung dibuang dan harus melalui proses tertentu untuk memastikan mikroorganisme yang tersisa tidak keluar dari fasilitas.
Sistem ventilasi juga harus terus berfungsi agar aliran udara tetap terkendali dan tidak membawa patogen ke luar.
Meski berbagai sistem telah diterapkan, sejarah menunjukkan bahwa kecelakaan laboratorium tetap dapat terjadi.
Dalam materi tersebut diceritakan mengenai sebuah insiden ketika penyaring udara di fasilitas penelitian antraks tidak tertutup dengan benar.
Kondisi tersebut menyebabkan serbuk antraks keluar ke udara selama berjam-jam dan mengakibatkan puluhan orang meninggal dunia.
Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa keselamatan laboratorium tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga ketelitian manusia dalam mengikuti setiap prosedur.
Risiko juga muncul ketika peneliti tidak mengetahui secara pasti mikroorganisme yang terdapat dalam suatu sampel.
Sampel dari seseorang yang sedang mengalami penyakit menular dapat mengandung patogen yang belum teridentifikasi atau belum memiliki vaksin maupun pengobatan tertentu.
Karena itu, prinsip biosafety mengharuskan setiap bahan biologis diperlakukan sebagai sesuatu yang berpotensi membahayakan sampai dapat dipastikan tingkat risikonya.
Keamanan berlapis menjadi penting agar patogen yang sedang dipelajari tidak justru menjadi sumber wabah baru.













