JAKARTA, Cobisnis.com – Dunia kini memiliki raja baru kendaraan listrik (electric vehicle/EV), dan gelar tersebut tidak lagi dipegang oleh Tesla. Produsen mobil listrik asal China, BYD, berhasil menyalip Tesla sebagai penjual EV terbesar di dunia berdasarkan data penjualan tahun 2025 yang dirilis pekan ini.
Pada 2011, CEO Tesla Elon Musk sempat meremehkan BYD dan menilai perusahaan tersebut bukan pesaing serius. Namun, sekitar 14 tahun kemudian, BYD justru mengalahkan pionir mobil listrik asal Amerika Serikat itu di arena global.
BYD mengumumkan pada Kamis bahwa mereka menjual 2,26 juta unit EV sepanjang 2025, naik hampir 28% dibandingkan tahun sebelumnya. Sebaliknya, Tesla melaporkan penurunan penjualan untuk tahun kedua berturut-turut. Pengiriman kendaraan Tesla turun 8,6% menjadi hanya 1,6 juta unit, mencatatkan penurunan tahunan terbesar dalam sejarah perusahaan.
Keberhasilan BYD semakin mencolok karena mobil listriknya belum dijual di pasar Amerika Serikat, sementara China merupakan pasar terbesar kedua bagi Tesla. Pada kuartal keempat, penjualan Tesla tercatat sekitar 418 ribu unit, turun 15,6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, sekaligus anjlok tajam dari rekor penjualan global pada kuartal ketiga.
Lonjakan penjualan Tesla di kuartal ketiga terjadi karena konsumen Amerika berlomba membeli EV sebelum insentif pajak sebesar US$7.500 berakhir pada 1 Oktober. Namun, langkah tersebut diyakini hanya memajukan pembelian yang seharusnya terjadi di akhir tahun.
Tidak seperti produsen otomotif lain, Tesla tidak merinci penjualan berdasarkan wilayah dan hanya menyajikan angka global. Meski demikian, laporan perusahaan menunjukkan bahwa pasar Amerika Serikat menyumbang hampir setengah dari pendapatan Tesla. Laporan dari produsen otomotif lain juga diperkirakan akan menunjukkan pelemahan penjualan EV di AS pada tiga bulan terakhir 2025.
Tesla sempat mencatat pertumbuhan penjualan hampir 50% per tahun. Namun, pada 2024 perusahaan membukukan penurunan penjualan tahunan pertamanya, meski hanya sekitar 1%. Penurunan semakin tajam pada paruh pertama 2025 akibat persaingan ketat dari produsen EV lain seperti BYD dan merek otomotif global lama, serta reaksi negatif terhadap aktivitas politik Elon Musk yang memicu kekecewaan konsumen di Amerika dan Eropa.
Awal tahun lalu, ketika Musk memimpin Departemen Efisiensi Pemerintahan dalam pemerintahan Donald Trump, aksi protes kerap terjadi di depan showroom Tesla di Eropa dan Amerika Serikat. Bahkan, ada laporan vandalisme terhadap mobil dan fasilitas Tesla.
Untuk menekan dampak berakhirnya insentif pajak, Tesla meluncurkan versi lebih murah dari Model 3 dan Model Y. Meski harganya sekitar US$5.000 lebih rendah, varian tersebut memiliki jarak tempuh lebih pendek dan fitur yang lebih terbatas dibandingkan versi premium.
Persaingan Agresif
Di sisi lain, BYD mencapai pencapaian ini di tengah persaingan sengit dan perang harga di pasar domestik China. Tekanan tersebut mendorong perusahaan berbasis di Shenzhen itu untuk memperluas ekspansi ke luar negeri, meskipun strategi harga murahnya memicu pengawasan ketat dan tarif baru di sejumlah pasar.
Pertumbuhan total penjualan BYD, termasuk EV dan mobil hibrida, melambat ke level terlemah dalam lima tahun terakhir. Sepanjang tahun lalu, BYD menjual lebih dari 4,6 juta kendaraan, menegaskan tantangan besar di China, pasar otomotif terbesar dunia sekaligus basis utama penjualan BYD.
BYD juga melaporkan penurunan laba pada kuartal kedua dan ketiga 2025. Meski jumlah merek mobil di China menyusut dalam beberapa tahun terakhir, persaingan tetap ketat dengan sekitar 150 merek mobil dan lebih dari 50 produsen EV, menurut riset HSBC.
Pesaing seperti Geely, Leapmotor, dan Xiaomi yang baru meluncurkan EV pertamanya pada 2024 perlahan menggerus pangsa pasar domestik BYD. Pangsa pasar BYD turun dari puncak 35% pada 2023 menjadi 29% dalam 11 bulan pertama 2025. Pada periode yang sama, penjualan BYD turun lebih dari 5%, sementara Geely melonjak hampir 90%.
Pendiri dan CEO BYD, Wang Chuanfu, menyebut perlambatan penjualan domestik disebabkan berkurangnya keunggulan teknologi dan kurangnya diferensiasi produk. Namun, ia menegaskan BYD akan segera meluncurkan teknologi baru.
Sementara itu, saham Tesla (TSLA) naik 1,2% pada perdagangan awal Jumat dan ditutup menguat 18,6% sepanjang 2025. Investor tampak lebih fokus pada rencana Musk terkait armada robotaxi dan pengembangan robot humanoid, meskipun realisasi layanan robotaxi Tesla sejauh ini masih jauh dari janji awal dan baru beroperasi terbatas di Austin dan San Francisco.














