JAKARTA, Cobisnis.com – Tahun 2026 diproyeksikan menjadi periode penuh kejutan bagi pasar keuangan Indonesia dan global. Berbagai skenario agresif mulai ramai diperbincangkan, dari lonjakan indeks saham hingga reli aset digital dan komoditas.
Salah satu skenario paling mencolok adalah potensi IHSG menembus level 10.000. Optimisme ini didorong oleh stabilitas makro, pertumbuhan ekonomi domestik, serta arus dana institusi yang diperkirakan kembali deras ke pasar modal Indonesia.
Dari sisi korporasi, pasar juga diramaikan oleh prediksi munculnya 10 IPO saham konglomerasi. Jika terealisasi, gelombang ini berpotensi meningkatkan kedalaman pasar sekaligus memperbesar kapitalisasi bursa secara signifikan.
Sejumlah saham lama juga masuk dalam daftar spekulasi pelaku pasar. BUMI disebut-sebut bisa bergerak hingga level 1.000, sementara SUPA diproyeksikan menuju 2.000, seiring tingginya minat pada saham berkapitalisasi kecil yang sensitif terhadap sentimen.
Di jajaran saham perbankan, ekspektasi rebound menguat. BBRI diperkirakan kembali ke level 5.000, sementara BBCA berpotensi menyentuh 10.000, sejalan dengan pemulihan kredit, digitalisasi layanan, dan stabilitas sektor keuangan.
Aset safe haven juga tak luput dari sorotan. Harga emas diprediksi bisa menembus Rp4 juta per gram, dipicu ketidakpastian geopolitik global dan kebijakan suku bunga yang lebih longgar.
Sementara itu, aset kripto kembali menjadi perbincangan. Bitcoin diproyeksikan naik hingga USD 150.000, ditopang adopsi institusi, ETF kripto, serta berkurangnya suplai pasca halving.
Skenario korporasi global pun ikut mewarnai diskusi. DADA disebut berpotensi diakuisisi di kisaran 300 ribu, dengan nama besar seperti Vanguard dikaitkan dalam spekulasi pasar.
Fenomena unik juga datang dari sisi ritel. RLCO menjadi simbol optimisme investor kecil, bahkan muncul candaan bahwa satu lot saham ritel bisa “dibeli McLaren”, menggambarkan tingginya euforia pasar.
Meski demikian, seluruh skenario ini tetap berada dalam ranah proyeksi dan opini. Pelaku pasar diingatkan untuk tetap rasional, disiplin risiko, dan tidak menjadikan prediksi sebagai keputusan investasi tunggal.














