JAKARTA, Cobisnis.com – Pilihan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk memimpin bank sentral, Kevin Warsh, menilai ada satu alasan utama untuk kembali menurunkan suku bunga: lonjakan produktivitas yang didorong kecerdasan buatan (AI).
Warsh, yang dinominasikan sebagai Ketua The Fed pada 30 Januari, sebelumnya menyatakan bahwa AI menghadirkan “gelombang peningkatan produktivitas terbesar dalam hidup kita.” Dalam pandangannya, teknologi ini berpotensi bersifat “disinflasioner secara struktural,” seperti internet di era 1990-an, sehingga membuka ruang bagi bank sentral untuk terus memangkas suku bunga.
Data dari Bureau of Labor Statistics menunjukkan produktivitas AS tumbuh cukup kuat dalam beberapa tahun terakhir. Secara teori ekonomi, produktivitas tinggi memungkinkan pertumbuhan tetap kuat tanpa memicu inflasi, sehingga bank sentral tidak perlu menaikkan suku bunga. Namun, apakah logika yang sama cukup kuat untuk membenarkan pemangkasan suku bunga masih menjadi perdebatan.
Jika dikonfirmasi Senat untuk menggantikan Ketua saat ini, Jerome Powell, pada Mei mendatang, Warsh akan memimpin komite penentu suku bunga beranggotakan 12 orang yang belakangan terpecah tajam soal arah kebijakan. Ketua The Fed harus membangun konsensus, karena setiap anggota termasuk ketua hanya memiliki satu suara.
Warsh perlu meyakinkan koleganya, sebagian di antaranya masih khawatir terhadap inflasi, bahwa lonjakan produktivitas akibat AI cukup kuat untuk membenarkan pemangkasan tambahan. Banyak ekonom menilai masih terlalu dini untuk memastikan AI akan meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan.
Argumen Produktivitas
Saat menjabat sebagai Gubernur The Fed pada 2006–2011, Warsh dikenal sebagai sosok “hawkish” atau cenderung ketat terhadap inflasi. Namun kini ia sejalan dengan pemerintahan Trump yang percaya ekonomi AS tengah memasuki era ledakan produktivitas seperti masa dot-com.
Menteri Keuangan Scott Bessent menyebut AS berada pada tahap awal ledakan produktivitas mirip 1990-an. Pandangan serupa juga disampaikan Direktur Dewan Ekonomi Nasional Kevin Hassett.
Beberapa pejabat bank sentral saat ini, termasuk Gubernur The Fed Christopher Waller dan Lisa Cook, serta Powell sendiri, mengakui AI berpotensi meningkatkan produktivitas secara signifikan.
Warsh bahkan merujuk pada pendekatan mantan Ketua The Fed Alan Greenspan di era 1990-an. Saat itu, Greenspan menahan kenaikan suku bunga karena meyakini lonjakan produktivitas berbasis internet mampu menjaga inflasi tetap stabil meski ekonomi memanas.
Namun, ekonom seperti Michael Pearce dari Oxford Economics menilai pendekatan Greenspan kala itu bukan berarti bank sentral harus memangkas suku bunga ke level akomodatif, melainkan hanya menunda kenaikan.
Tantangan Meyakinkan The Fed
Sejumlah pejabat The Fed meragukan argumen bahwa produktivitas tinggi otomatis membuka ruang pemangkasan suku bunga. Presiden The Fed Cleveland, Beth Hammack, menyatakan produktivitas yang lebih kuat justru bisa menaikkan “suku bunga netral” tingkat bunga teoritis yang tidak mendorong maupun menahan pertumbuhan ekonomi.
Jika suku bunga netral lebih tinggi, maka ekonomi justru mampu bertahan dengan bunga tinggi, bertentangan dengan dorongan pemerintahan Trump untuk pemangkasan agresif.
Presiden The Fed Dallas, Lorie Logan, juga mengakui AI meningkatkan efisiensi bisnis, tetapi tetap berhati-hati terhadap risiko inflasi. Ia bahkan disebut mungkin akan berbeda pendapat atas keputusan pemangkasan suku bunga pada Desember lalu. Analis strategi investasi ClearBridge Investments, Josh Jamner, menilai produktivitas adalah variabel ekonomi yang sering kali baru bisa dipahami secara jelas setelah waktu berlalu. Ia menambahkan, berbeda dengan era 1990-an, AS kini menghadapi populasi menua dan pertumbuhan tenaga kerja yang lebih lambat.
Dengan demikian, argumen Warsh bahwa AI menjadi alasan kuat untuk menurunkan suku bunga masih menghadapi tantangan besar di internal The Fed.












