JAKARTA, Cobisnis.com – Manajer tim Ducati, Davide Tardozzi, menilai Ducati dan Aprilia kini memiliki tingkat daya saing yang seimbang pada MotoGP 2026. Menurutnya, perebutan gelar juara dunia musim ini lebih banyak ditentukan kemampuan pebalap dibanding keunggulan motor.
MotoGP 2026 menjadi musim terakhir penggunaan motor bermesin 1.000 cc sebelum regulasi baru bermesin 850 cc mulai diterapkan pada musim 2027. Situasi tersebut membuat persaingan antarpabrikan semakin ketat hingga akhir musim.
Tardozzi mengatakan Ducati tetap tampil kompetitif sepanjang musim. Meski sempat menghadapi sejumlah kendala pada awal kompetisi, kondisi serupa juga dialami beberapa tim rival.
Menurutnya, performa Ducati dan Aprilia saat ini sudah berada di level yang sama. Karena itu, sulit memprediksi pabrikan mana yang akan mendominasi hingga seri penutup musim.
Ia menilai karakter setiap sirkuit akan menjadi faktor yang membedakan hasil balapan. Beberapa lintasan dinilai lebih cocok untuk Aprilia, sementara trek lainnya berpotensi menguntungkan Ducati.
Salah satu contoh yang disampaikan Tardozzi adalah Sirkuit Silverstone. Menurutnya, Aprilia kemungkinan memiliki peluang lebih besar tampil kuat di lintasan tersebut.
Meski demikian, Tardozzi menegaskan faktor utama penentu kemenangan kini bukan lagi motor. Kemampuan pebalap memaksimalkan performa motor akan menjadi pembeda dalam perebutan gelar juara.
Aprilia sendiri membuka MotoGP 2026 dengan performa yang mengejutkan. Pabrikan asal Noale itu mampu tampil konsisten dan langsung bersaing di papan atas klasemen.
Sebaliknya, Ducati yang berstatus juara bertahan konstruktor sempat kesulitan meraih podium pada awal musim. Namun, tim asal Italia tersebut perlahan kembali menunjukkan peningkatan performa.
Hingga klasemen sementara, Jorge Martin dan Ai Ogura dari Aprilia memimpin persaingan. Keduanya unggul 14 poin atas Marc Marquez, sementara Marco Bezzecchi yang masih dibekap cedera tertinggal 22 poin dari Martin.













