JAKARTA, Cobisnis.com – Seorang perawat muda berusia 25 tahun di India meninggal dunia setelah terinfeksi virus Nipah, penyakit langka yang dikenal memiliki tingkat kematian tinggi.
Perawat tersebut merupakan satu dari dua kasus yang dikonfirmasi di wilayah India timur. Ia diduga tertular virus yang ditularkan kelelawar saat menjalani perawatan pasien di rumah sakit tempatnya bekerja.
Pejabat kesehatan setempat menyatakan korban sempat berada dalam kondisi kritis sebelum meninggal akibat serangan jantung. Kondisinya terus memburuk setelah mengalami komplikasi berat.
Sejak awal Januari, korban telah menggunakan alat bantu pernapasan. Ia kemudian mengalami gagal organ multipel, kondisi serius ketika dua atau lebih organ tubuh berhenti berfungsi.
Multiple Organ Failure (MOF) merupakan kondisi medis akut yang membuat tubuh tidak mampu bertahan tanpa dukungan alat medis. Situasi ini sering terjadi pada infeksi berat dengan respons imun ekstrem.
Korban bersama seorang perawat pria berusia 27 tahun dari rumah sakit yang sama sebelumnya mengalami demam pada Desember 2025. Gejala mereka berkembang cepat menjadi kejang, sakit kepala hebat, dan penurunan kesadaran.
Keduanya sempat dirawat di unit perawatan intensif. Perawat pria tersebut berhasil pulih dan telah diperbolehkan pulang, sementara korban perempuan tidak berhasil diselamatkan.
Kasus ini muncul hanya beberapa hari setelah seorang wanita di Bangladesh juga meninggal akibat virus Nipah. Kemunculan kasus di wilayah Asia Selatan kembali meningkatkan kewaspadaan kesehatan regional.
Virus Nipah memiliki tingkat kematian sekitar 40–75 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan COVID-19. Penularannya dapat terjadi dari hewan ke manusia maupun melalui kontak erat dengan penderita.
Meski mematikan, para ahli menyebut kemungkinan virus ini memicu darurat global relatif kecil. Tingkat penularan antar manusia tergolong rendah dengan angka reproduksi dasar di bawah 1.
Namun para pakar mengingatkan dunia kesehatan untuk tetap waspada. Mutasi virus dan masa inkubasi panjang dapat mempersulit deteksi serta pengendalian di perbatasan negara.
Kasus ini menjadi pengingat pentingnya protokol perlindungan tenaga kesehatan. Tenaga medis berada di garis depan menghadapi penyakit menular berisiko tinggi.
Peningkatan pengawasan epidemiologis dan kesiapan fasilitas kesehatan dinilai krusial untuk mencegah penyebaran lebih luas, terutama di kawasan dengan interaksi manusia dan satwa liar yang tinggi.












