JAKARTA, Cobisnis.com – Salah satu cabang olahraga tertua di Olimpiade Musim Dingin, Nordic combined, tengah menghadapi ancaman serius akibat penurunan jumlah atlet dan minimnya daya tarik global. Ironisnya, olahraga yang telah dipertandingkan sejak Olimpiade Musim Dingin pertama tahun 1924 di Chamonix, Prancis, itu hingga kini masih menjadi satu-satunya cabang musim dingin yang tidak pernah membuka nomor bagi perempuan di Olimpiade.
Nordic combined menggabungkan dua disiplin ekstrem yang sangat berbeda: lompat ski dan ski lintas alam. Namun pada Olimpiade Musim Dingin Milan–Cortina 2026, hanya atlet pria yang akan berlaga. Hal ini berarti Niklas Malacinski, atlet Amerika Serikat yang kini berada di peringkat 29 dunia, akan tampil di Olimpiade, sementara saudara perempuannya, Annika Malacinski yang justru berada di peringkat 10 dunia—harus tersingkir hanya karena faktor gender.
Kondisi ini dinilai bertolak belakang dengan kampanye kesetaraan yang terus digaungkan Komite Olimpiade Internasional (IOC). Olimpiade Paris 2024 dipuji sebagai ajang dengan partisipasi atlet pria dan perempuan yang seimbang (50:50), sementara Milan–Cortina 2026 diproyeksikan mencapai 47% atlet perempuan. Meski demikian, pintu Nordic combined tetap tertutup bagi wanita.
Penolakan IOC tidak semata-mata didasari isu gender, tetapi juga kekhawatiran terhadap keberlangsungan cabang olahraga itu sendiri. Jumlah atlet pria terus menyusut hanya 36 atlet yang akan tampil di Milan–Cortina, turun drastis dari 55 atlet pada Olimpiade Beijing 2022. Selain itu, dominasi negara-negara tertentu seperti Jerman, Austria, dan Finlandia membuat kompetisi kurang merata. Bahkan, pada Juni mendatang, IOC disebut-sebut dapat mempertimbangkan untuk menghapus Nordic combined dari Olimpiade.
Namun, di sinilah letak paradoksnya. Justru di sektor perempuan, Nordic combined menunjukkan pertumbuhan pesat. Federasi Ski dan Snowboard Internasional (FIS) baru menggelar Piala Dunia Nordic combined putri pada 2020, tetapi kini lebih dari 200 atlet perempuan aktif berkompetisi. Berbeda dengan sektor pria, persaingan perempuan juga jauh lebih beragam, dengan atlet dari tujuh negara berbeda masuk dalam jajaran 10 besar dunia.
Annika Malacinski menegaskan bahwa perjuangannya bukan untuk menjatuhkan atlet pria, melainkan menyelamatkan olahraga yang ia cintai. Menurutnya, dukungan publik dan sorotan media justru sangat dibutuhkan agar Nordic combined tetap relevan dan diminati generasi muda.
Kisah Annika dan Niklas mencerminkan ketimpangan sistemik yang masih terjadi di olahraga internasional. Ketika satu saudara berjuang mewujudkan mimpi Olimpiade, saudara lainnya harus beralih menjadi aktivis demi memastikan mimpi generasi berikutnya tidak terhenti oleh batasan yang dianggap sudah tak relevan di era modern.













