JAKARTA, Cobisnis.com – Di tengah era ponsel pintar dan gim canggih, mainan digital lawas bernama Tamagotchi justru kembali menemukan penggemarnya. Bahkan, ratusan orang rela berkumpul untuk menikahkan hewan peliharaan virtual mereka dalam sebuah “pernikahan Tamagotchi” massal di Toronto, Kanada.
William Maneja (29) adalah salah satu pesertanya. Dalam waktu kurang dari satu jam, ia sudah empat kali “melamar” dengan cara yang tak biasa: bukan cincin, melainkan Tamagotchi. Acara yang digelar di Cecil Community Centre pada Agustus lalu itu dihadiri sekitar 200 penggemar dan menghasilkan 162 “pernikahan” hewan virtual, yang diklaim sebagai pernikahan Tamagotchi terbesar di dunia.
Diluncurkan pertama kali oleh perusahaan mainan Jepang Bandai pada 1996, Tamagotchi hewan peliharaan digital portabel berbentuk telur dengan tiga tombol sempat menjadi fenomena global. Dalam dua setengah tahun pertama, lebih dari 40 juta unit terjual. Hingga akhir Juli lalu, total pengapalan Tamagotchi melampaui 100 juta unit di seluruh dunia, menempatkannya sejajar dengan konsol populer seperti Nintendo Switch dan PlayStation.
Pada 2026, Tamagotchi akan merayakan ulang tahun ke-30 dengan berbagai agenda, termasuk pameran di Museum Roppongi, Tokyo, serta kolaborasi merchandise dengan Uniqlo. Popularitasnya yang bertahan lama tak lepas dari desain yang membangun ikatan emosional. Kurator senior Museum of Modern Art (MoMA) New York, Paola Antonelli, menyebut Tamagotchi sebagai salah satu contoh awal bagaimana desain dapat menumbuhkan hubungan emosional antara manusia dan mesin.
Menurut Antonelli, kekuatan Tamagotchi bukan pada grafis atau cerita, melainkan perilaku. Pengguna dipaksa merawat, memberi makan, membersihkan, dan memperhatikan hewan digitalnya. Jika lalai, konsekuensinya jelas: Tamagotchi bisa “mati”. Siklus kepedulian dan tanggung jawab inilah yang membuatnya membekas hingga puluhan tahun kemudian.
Bagi sebagian orang, Tamagotchi bahkan memiliki makna terapeutik. Maneja mengaku kembali memainkan koleksi lamanya saat berada di titik terendah setelah kehilangan sang nenek di masa pandemi. Merawat Tamagotchi membantunya tetap membumi dan perlahan merawat dirinya sendiri. Hal serupa dirasakan banyak penggemar lain yang menyebut Tamagotchi membantu mengurangi kecemasan dan rasa kesepian.
Bandai sendiri terus memperbarui produknya. Mulai dari Tamagotchi Connection pada 2004 dengan fitur interaksi antar-pemain, Tamagotchi Pix (2021) dengan kamera internal, Tamagotchi Uni (2023) berbasis Wi-Fi, hingga Tamagotchi Paradise yang dirilis tahun lalu untuk generasi lebih muda. Di sisi lain, budaya Tamagotchi juga hidup di media sosial lewat komunitas, tutorial, hingga modifikasi cangkang.
Psikolog menilai daya tarik Tamagotchi terletak pada naluri manusia untuk merawat dan terhubung, namun dalam bentuk yang sederhana dan terkendali. Tugas-tugas kecil seperti memberi makan atau bermain memberi rasa pencapaian tanpa tekanan besar seperti merawat makhluk hidup nyata.
Kini, Tamagotchi bukan sekadar nostalgia era 1990-an. Ia menjelma menjadi medium bermain lintas usia, alat pengikat komunitas, hingga sumber kenyamanan emosional. Seperti yang dikatakan pendiri Toronto Tamagotchi Club, Twoey Gray, “Sebagai orang dewasa, kita jarang punya ruang untuk terhubung lewat permainan. Tamagotchi menunjukkan betapa hal itu masih sangat dibutuhkan.”














