JAKARTA, Cobisnis.com – Sumpit sudah menjadi bagian yang sangat melekat dalam budaya masyarakat Cina. Meski kini tersedia berbagai pilihan alat makan, penggunaan dua batang kecil ini tetap bertahan hingga sekarang.
Lantas, kenapa sumpit bisa begitu populer dan bahkan digunakan sejak ribuan tahun lalu?
Dikutip dari kanal YouTube Kok Bisa?, sumpit tertua yang pernah ditemukan diketahui telah berusia ribuan tahun. Bahkan, berdasarkan catatan salah satu sejarawan Cina, penggunaan sumpit diperkirakan telah berlangsung jauh lebih lama.
Menariknya, sumpit pada masa awal ternyata tidak secara khusus digunakan sebagai alat makan. Nama dan penggunaannya pada masa itu justru menunjukkan bahwa sumpit lebih dominan berfungsi sebagai alat untuk memasak.
Pada zaman dahulu, makanan masyarakat Cina umumnya diolah dengan cara direbus atau dibakar. Karena masyarakat Cina kuno sudah mahir membuat tembikar, mereka banyak mengolah makanan dengan cara merebusnya.
Dalam proses tersebut, sumpit digunakan untuk mengaduk makanan sekaligus mengambil makanan dari dalam wadah.
Lalu, bagaimana sumpit yang awalnya digunakan untuk memasak akhirnya menjadi alat makan?
Pada masa itu, sumpit sebenarnya sudah digunakan di meja makan, tetapi hanya sebagai alat makan pelengkap. Salah satu alasannya karena makanan pokok yang dikonsumsi masyarakat saat itu belum terlalu praktis untuk disantap menggunakan sumpit.
Seiring masyarakat Cina memperluas wilayah dan mengenal semakin banyak jenis makanan pokok, bentuk makanan yang dikonsumsi pun semakin beragam. Beberapa di antaranya ternyata lebih mudah disantap menggunakan sumpit.
Dari sinilah penggunaan sumpit perlahan berpindah dari dapur ke meja makan dan akhirnya menjadi kebiasaan yang melekat dalam kehidupan sehari-hari.
Penggunaan sumpit juga ikut memengaruhi cara makanan Cina disiapkan. Banyak masakan Cina dipotong menjadi bagian-bagian kecil sebelum disajikan.
Cara tersebut bukan hanya membuat makanan lebih cepat matang, tetapi juga membuatnya lebih mudah dimakan menggunakan sumpit. Dengan begitu, orang tidak perlu repot memotong makanan lagi ketika sudah berada di meja makan.
Selain faktor kepraktisan, perkembangan penggunaan sumpit juga berkaitan dengan pandangan filosofis.
Salah satu filsuf ternama dalam tradisi Cina memandang pisau dan garpu sebagai benda yang menyerupai senjata dan melambangkan kekerasan. Sebaliknya, sumpit dianggap sebagai simbol kelembutan dan alat makan yang lebih sesuai bagi orang beradab.
Pandangan tersebut bahkan tercatat dalam salah satu kitab Konfusianisme.
Karena itu, sumpit bukan sekadar alat untuk mengambil makanan. Penggunaannya kemudian menjadi bagian dari nilai dan kebudayaan masyarakat Cina.
Popularitas sumpit pun semakin berkembang dan menyebar ke berbagai negara di Asia Timur dan negara-negara tetangga Cina.
Hingga kini, sumpit tidak hanya ditemukan dalam hidangan tradisional Cina, tetapi juga menjadi alat makan yang umum digunakan di berbagai negara Asia, termasuk Indonesia.
Perjalanan sumpit menunjukkan bagaimana sebuah benda sederhana dapat memiliki sejarah yang panjang. Dari awalnya digunakan untuk mengaduk dan mengambil makanan saat memasak, sumpit akhirnya berubah menjadi alat makan sekaligus bagian dari identitas budaya.
Jadi, kalau selama ini sumpit dianggap hanya sebagai dua batang kecil untuk mengambil makanan, ternyata benda tersebut menyimpan perjalanan sejarah yang cukup panjang.













