JAKARTA, Cobisnis.com – Peristiwa Gerakan 30 September atau G30S masih menyisakan perdebatan mengenai aktor di baliknya. Dalam video bertema Siapa Sebenarnya Dalang G30S?, kanal YouTube MALAKA mengulas berbagai teori yang mencoba menjelaskan peristiwa tersebut, mulai dari keterlibatan PKI hingga dugaan peran militer dan intelijen Amerika Serikat.
Selama masa Orde Baru, narasi resmi sejarah menempatkan Partai Komunis Indonesia (PKI) sebagai dalang tunggal G30S. Pandangan tersebut disebarkan melalui buku sejarah, materi pendidikan, dan film yang membentuk pemahaman masyarakat selama puluhan tahun.
Namun, sejumlah sejarawan dan peneliti mengajukan perspektif berbeda mengenai peristiwa 1965. Berbagai kajian menyoroti kemungkinan adanya konflik internal militer, perebutan kekuasaan, serta kepentingan geopolitik di tengah Perang Dingin.
Salah satu teori yang dibahas berasal dari analisis Benedict Anderson dan Ruth McVey yang dikenal sebagai Cornell Paper. Kajian tersebut mengaitkan G30S dengan konflik internal Angkatan Darat, termasuk ketegangan antara perwira yang merasa tidak puas terhadap kondisi dan posisi mereka.
Perspektif lain datang dari Harold Crouch melalui kajiannya tentang militer dan politik di Indonesia. Ia membahas perpecahan di tubuh Angkatan Darat menjelang 1965, termasuk perbedaan sikap para perwira terhadap Presiden Soekarno.
Video tersebut juga mengulas teori mengenai peran Soeharto dalam rangkaian peristiwa G30S. Sejumlah penelitian mempertanyakan bagaimana militer bergerak cepat mengambil kendali setelah peristiwa tersebut, meski penafsiran mengenai peran dan tanggung jawab para tokoh tetap menjadi bagian dari perdebatan sejarah.
Selain itu, keterlibatan intelijen Amerika Serikat atau CIA turut dibahas dalam konteks Perang Dingin. Sejumlah kajian menyoroti kepentingan Washington untuk membendung pengaruh komunisme di Indonesia, termasuk dukungan terhadap kelompok antikomunis setelah krisis 1965.
Pembahasan lain menyinggung teori yang menempatkan Presiden Soekarno sebagai aktor penting dalam peristiwa tersebut. Namun, teori ini juga menuai penolakan dari pihak keluarga Soekarno, yang menilai tuduhan tersebut mencemarkan nama baik sang presiden.
Kanal MALAKA turut menyoroti penelitian sejarawan Jess Melvin yang menggunakan dokumen internal militer dari periode 1965 hingga 1966. Kajian tersebut membahas peran struktur komando militer dalam konsolidasi kekuasaan dan operasi penumpasan setelah G30S.
Dalam kesimpulannya, video tersebut menekankan bahwa peristiwa 1965 tidak bisa dipahami hanya melalui satu versi sejarah. Berbagai teori perlu dilihat berdasarkan sumber dan bukti yang digunakan, sekaligus dengan mengingat dampak kemanusiaan yang ditimbulkan.
“Namun saya kira semenarik apapun pembicaraan kita soal dalang, seseru apapun update-update baru yang mendatang yang tidak boleh dilupakan ketika kita membicarakan peristiwa 65 adalah mula-mula mengingat ini sebagai sebuah tragedi,” dikutip dari kanal YouTube MALAKA, Senin (12/10/2026).
Pembahasan mengenai G30S juga berkaitan dengan upaya merawat ingatan terhadap korban dan dampak panjang tragedi 1965. Peristiwa tersebut menjadi bagian penting dari sejarah Indonesia modern, sekaligus pengingat akan besarnya konsekuensi konflik politik dan pelanggaran hak asasi manusia.













