JAKARTA, Cobisnis.com – Konflik yang berlangsung di Timur Tengah disebut mulai memberikan tekanan terhadap kondisi ekonomi Australia dan meningkatkan risiko kenaikan inflasi.
Gubernur Reserve Bank of Australia (RBA) Michele Bullock menyampaikan hal tersebut dalam sidang dengar pendapat parlemen di Canberra pada Jumat (18/9/2026), dengan lonjakan harga minyak akibat konflik menjadi salah satu faktor yang berpotensi mendorong inflasi.
“Saya rasa kita harus mengakui bahwa trade-off sudah semakin memburuk, sehingga guncangan di Timur Tengah kali ini telah membuat kita semakin miskin, dan kita tidak bisa merespons hal itu dengan membiarkan inflasi tidak terkendali,” kata Bullock, dikutip dari berbagai sumber, Sabtu (19/9/2026).
Menurut Bullock, gangguan pasokan yang berkaitan dengan konflik tersebut memperburuk keseimbangan antara pengendalian inflasi dan kondisi lapangan kerja di Australia.
Dewan Kebijakan Moneter RBA yang dipimpin Bullock dijadwalkan menggelar pertemuan pada akhir September untuk mempertimbangkan kembali tingkat suku bunga.
RBA sebelumnya telah menaikkan target suku bunga pasar uang sebanyak tiga kali dengan masing-masing kenaikan 0,25 poin persentase dalam enam bulan pertama 2026, sebelum mempertahankan suku bunga acuan di level 4,35 persen pada pertemuan Juni dan Agustus.
Pertemuan tersebut akan mempertimbangkan apakah tingkat suku bunga saat ini cukup untuk membawa inflasi kembali ke kisaran target RBA sebesar 2-3 persen dalam waktu yang wajar.
“Saat ini, semakin penting bagi kita untuk mengembalikan inflasi ke kisaran target,” tutur Bullock.
Data terbaru Biro Statistik Australia menunjukkan inflasi tahunan turun dari 3,8 persen pada Juni menjadi 3,5 persen pada Juli 2026, sekaligus menjadi level terendah sejak November 2025.













