JAKARTA, Cobisnis.com – Harga minyak dunia melonjak pada perdagangan awal pekan seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap situasi di Iran yang kian memanas. Ketegangan politik dan sosial di negara produsen minyak tersebut dinilai berpotensi mengganggu pasokan energi global.
Berdasarkan laporan Reuters, Senin (12/1/2026), harga minyak mentah berjangka Brent naik 31 sen atau 0,49% ke level US$ 63,65 per barel. Sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat 30 sen atau 0,51% ke posisi US$ 59,42 per barel.
Kenaikan ini melanjutkan tren positif pekan lalu, di mana kedua kontrak minyak utama tersebut melonjak lebih dari 3%. Capaian tersebut menjadi kenaikan mingguan terbesar sejak Oktober 2025.
Pasar menilai situasi di Iran menjadi faktor utama penguatan harga minyak. Gelombang protes yang terus berlanjut memicu kekhawatiran akan stabilitas produksi dan distribusi minyak dari negara tersebut.
Pemerintah Iran dilaporkan memperketat tindakan terhadap demonstrasi besar-besaran yang telah berlangsung sejak 2022. Laporan kelompok hak asasi manusia menyebut kerusuhan sipil ini telah menelan lebih dari 500 korban jiwa.
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran baru setelah para pekerja industri minyak di Iran menyerukan aksi mogok kerja. Jika aksi ini meluas, pasokan minyak global berisiko terganggu dalam skala signifikan.
Analis ANZ yang dipimpin Daniel Hynes memperkirakan setidaknya 1,9 juta barel ekspor minyak per hari berada dalam risiko gangguan. Angka ini dinilai cukup besar untuk memengaruhi keseimbangan pasokan dan permintaan global.
Dari sisi geopolitik, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan akan memanggil penasihat seniornya menyusul ketegangan yang belum mereda. Trump sebelumnya mengisyaratkan kemungkinan intervensi jika kekerasan terhadap demonstran terus berlanjut.
Di tengah meningkatnya ketegangan Iran, Venezuela justru muncul sebagai faktor penyeimbang pasar. Negara tersebut dilaporkan bersiap melanjutkan ekspor minyak setelah perubahan politik di dalam negeri.
Trump menyatakan Venezuela siap menyerahkan hingga 50 juta barel minyak yang sebelumnya terkena sanksi kepada Amerika Serikat. Kabar ini langsung memicu persaingan antarperusahaan minyak global.
Sejumlah perusahaan besar berlomba mencari kapal tanker untuk mengangkut minyak dari pelabuhan Venezuela. Raksasa perdagangan komoditas Trafigura bahkan menyatakan kapal pertamanya dijadwalkan mulai memuat minyak pada pekan depan.














