JAKARTA, Cobisnis.com – Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan kesiapan mereka menghadapi rencana Amerika Serikat yang akan mengerahkan kapal perang untuk mengawal pelayaran di Selat Hormuz. Jalur laut yang sangat penting bagi perdagangan energi dunia itu kini berada dalam situasi tegang akibat meningkatnya konflik di kawasan Timur Tengah.
Juru bicara IRGC, Ali Mohammad Naini, menyampaikan bahwa pihaknya mengetahui rencana Washington untuk menempatkan armada angkatan laut guna memastikan kapal-kapal komersial dapat melintas dengan aman di perairan tersebut. Menurutnya, Iran akan terus memantau setiap langkah yang diambil oleh Amerika Serikat.
Ia juga mengingatkan agar pemerintah AS mempertimbangkan konsekuensi dari keputusan tersebut dengan melihat berbagai kejadian sebelumnya. Salah satunya adalah insiden kapal tanker Bridgeton pada 1987, serta sejumlah serangan terhadap kapal tanker minyak yang terjadi belakangan ini di wilayah sekitar Selat Hormuz.
IRGC juga mengungkapkan bahwa sebuah kapal tanker minyak bernama Prima mengalami ledakan akibat serangan drone setelah tetap melanjutkan pelayaran. Kapal tersebut dilaporkan mengabaikan beberapa peringatan dari angkatan laut Iran terkait larangan melintas dan situasi keamanan di kawasan tersebut.
Sementara itu, situasi yang semakin memanas di kawasan Teluk juga mendorong para Menteri Luar Negeri negara-negara anggota Liga Arab untuk menggelar pertemuan darurat. Pertemuan yang akan berlangsung pada Minggu (8/3) melalui konferensi video itu bertujuan membahas perkembangan konflik dan dampaknya terhadap stabilitas regional.
Permintaan pertemuan darurat tersebut diajukan oleh sejumlah negara anggota, di antaranya Kuwait, Arab Saudi, Qatar, Oman, Yordania, dan Mesir. Mereka berharap dapat merumuskan langkah bersama dalam merespons meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.













