JAKARTA, Cobisnis.com – Insomnia masih menjadi masalah umum yang dialami banyak orang, terutama di tengah rutinitas harian yang padat dan penuh tekanan. Malam hari yang seharusnya jadi waktu istirahat justru sering berubah menjadi momen paling melelahkan.
Banyak orang mencoba berbagai ritual sebelum tidur, mulai dari membaca buku hingga menghindari ponsel sepenuhnya. Namun, kebiasaan tersebut tidak selalu berhasil membuat tubuh cepat terlelap.
Certified Sleep & Recovery Coach Vishal Dasani menyebut, anggapan screen time selalu buruk sebelum tidur tidak sepenuhnya benar. Menurutnya, penggunaan gawai masih bisa dilakukan selama tidak berlebihan.
Vishal menjelaskan, studi yang dirilis pada 2024 menunjukkan jarak pandang layar dan kondisi pencahayaan ruangan turut memengaruhi dampaknya pada kualitas tidur. Penggunaan ponsel umumnya tidak dilakukan terlalu dekat dengan mata.
Selain itu, kamar tidur yang redup dengan lampu minim cahaya membantu menurunkan rangsangan visual. Jika cahaya layar terasa terlalu terang, tingkat kecerahan dapat disesuaikan.
Menurut Vishal, kunci utama bukan pada larangan screen time, melainkan pada kemampuan berhenti saat rasa kantuk datang. Tubuh sebaiknya diberi sinyal alami untuk beristirahat.
Selain screen time, mendengarkan podcast juga dinilai efektif membantu tubuh lebih rileks. Suara yang tenang dapat menurunkan ketegangan mental setelah aktivitas seharian.
Ritual lain yang disarankan adalah pillow talk atau obrolan santai dengan pasangan. Aktivitas ini membantu menciptakan rasa aman dan nyaman sebelum tidur.
Journaling juga menjadi pilihan untuk meredakan stres. Menulis perasaan dan hal-hal yang disyukuri membantu menjernihkan pikiran sebelum tubuh beristirahat.
Mandi air hangat dan rutinitas skincare turut berperan memberi sinyal bahwa hari telah selesai. Kebiasaan ini membantu transisi tubuh dari mode aktif ke mode istirahat.
Vishal menekankan pentingnya slow down sebelum tidur. Doa, meditasi, atau latihan pernapasan menjadi cara sederhana agar tubuh benar-benar siap terlelap.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa kualitas tidur lebih dipengaruhi oleh rutinitas yang konsisten dan kondisi mental yang rileks, bukan sekadar menjauhkan diri dari layar.














