JAKARTA, Cobisnis.com – Tekanan inflasi di Amerika Serikat diperkirakan belum akan berakhir dalam waktu dekat. Meski laju kenaikan harga mulai melambat, para analis menilai harga barang dan jasa masih berpotensi meningkat dalam beberapa tahun ke depan.
Biro Statistik Tenaga Kerja Amerika Serikat dijadwalkan merilis data inflasi terbaru pada Selasa. Laporan tersebut diperkirakan menunjukkan harga konsumen pada Juni turun dibandingkan bulan sebelumnya.
Jika proyeksi itu terwujud, penurunan tersebut menjadi yang pertama dalam dua tahun terakhir. Selain itu, kondisi itu hanya akan menjadi penurunan bulanan ketiga sejak pandemi Covid-19.
Penurunan harga tersebut diperkirakan didorong oleh melemahnya harga minyak dan bahan bakar. Harga energi turun tajam setelah Presiden Donald Trump menandatangani nota kesepahaman dengan Iran.
Namun, Trump kemudian menyatakan kesepakatan itu telah berakhir. Akibatnya, harga minyak kembali mengalami kenaikan meski masih terbatas.
Sementara itu, para ekonom mengingatkan bahwa penurunan harga energi belum mencerminkan kondisi inflasi secara keseluruhan. Sebab, komponen energi dikenal sangat berfluktuasi dan dapat berubah dengan cepat.
Karena itu, indikator inflasi inti yang tidak memasukkan harga energi dinilai lebih menggambarkan tekanan harga di perekonomian. Data tersebut menunjukkan inflasi masih berada pada level yang relatif tinggi.
Di sisi lain, kondisi itu menjadi tantangan bagi pemerintah dan bank sentral Amerika Serikat. Mereka masih harus menjaga stabilitas harga tanpa menghambat pertumbuhan ekonomi.













