JAKARTA, Cobisnis.com – Ilia Malinin tampak tenang memikul ekspektasi besar Olimpiade di pundaknya hingga momen itu benar-benar mengujinya. Saat skor akhir ditampilkan usai program bebasnya pada Jumat, banyak yang terdiam tak percaya.
Nama Malinin justru tercantum di posisi kedelapan. Hasil itu terasa janggal bagi sosok yang dijagokan meraih emas dan mencetak sejarah. Namun realitas keras dunia olahraga berkata lain: sang “Quad God” tidak hanya gagal meraih emas, tetapi juga pulang tanpa medali.
“Atas kejadian ini, jujur saya masih belum bisa memproses apa yang baru saja terjadi,” ujar Malinin yang berusia 21 tahun kepada wartawan beberapa menit setelah penampilannya. Ia mengaku diliputi emosi campur aduk dan merasa tekanan Olimpiade jauh berbeda dibanding kompetisi lain.
Sebelum tampil, hampir semua pihak meyakini Malinin akan menang. Ia unggul lima poin dari rival terdekatnya setelah tampil impresif di program pendek awal pekan. Sorotan bahkan tertuju pada kemungkinan ia menjadi atlet pertama yang mendaratkan lompatan quadruple Axel di Olimpiade gerakan ekstrem yang sejauh ini hanya berhasil ia lakukan dalam kompetisi resmi.
Jika harus kalah, banyak yang memperkirakan ia akan ditaklukkan oleh bintang Jepang, Yuma Kagiyama. Namun ketika Kagiyama justru tampil kurang maksimal, peluang emas bagi Malinin semakin terbuka lebar.
Ia tampak tak mungkin gagal. Sampai akhirnya ia benar-benar melakukannya.
Malinin mengungkapkan rasa gugup menyerangnya saat mengambil pose awal di tengah arena. “Semua momen traumatis dalam hidup saya tiba-tiba membanjiri pikiran. Begitu banyak pikiran negatif masuk, dan saya tidak bisa mengendalikannya,” katanya.
Penampilannya pun jauh dari standar biasanya. Ia dua kali terjatuh dan gagal bangkit sepenuhnya. Setiap kesalahan disambut desahan kaget penonton, lalu sorakan dukungan untuk memberinya semangat.
Kepercayaan diri yang kerap dianggap sebagian orang sebagai arogansi mendadak menghilang. Malinin terlihat rapuh di panggung dunia. Ia menahan air mata saat meninggalkan arena, lalu duduk di samping ayah sekaligus pelatihnya, Roman Skorniakov, untuk mendengar skor akhir.
Ia tetap menunjukkan sportivitas dengan memberi selamat kepada atlet Kazakhstan, Mikhail Shaidorov, yang secara mengejutkan meraih medali emas.
Sebagai juara dunia dua kali dan pemegang gelar bertahan, Malinin belum pernah kalah sejak 2023. Kekalahan ini menjadi pengalaman langka sekaligus pahit. Selama ini, senyum dan candanya kepada penonton seakan menutupi beban mental yang ia rasakan.
“Itu bukan hari terbaik saya dan jelas bukan sesuatu yang saya perkirakan. Tapi ini sudah terjadi, saya tidak bisa mengubahnya,” ujarnya. “Sekarang saya harus bangkit, mengevaluasi, dan melangkah ke depan.”
Analis olahraga Christine Brennan menyebut momen tersebut sebagai salah satu kejutan terbesar dalam sejarah olahraga modern.
Kisah ini mengingatkan pada pengalaman Nathan Chen di Olimpiade 2018 yang juga gagal saat difavoritkan, sebelum akhirnya bangkit dan meraih emas pada 2022.
Bagi Malinin, kegagalan di Milan Cortina bisa jadi hanya bab awal dalam perjalanan panjang menuju penebusan di Olimpiade berikutnya. Dengan bakat luar biasa yang ia miliki, peluang untuk bangkit tetap terbuka lebar.
Namun untuk saat ini, ia hanya bisa belajar dari pengalaman pahit tersebut dan menemukan cara mengelola tekanan yang akan semakin besar di masa depan. Karena pada akhirnya, sehebat apa pun seorang atlet, ia tetap manusia biasa.













