JAKARTA, Cobisnis.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandatangani perintah eksekutif untuk memperluas akses terhadap solar bebas pajak. Kebijakan ini diambil ketika harga diesel di AS melonjak dan menambah tekanan terhadap biaya hidup masyarakat.
Trump menandatangani perintah tersebut pada Senin, 5 Oktober 2026. Sebelumnya, ia telah mengumumkan rencana kebijakan tersebut dalam sebuah kampanye di Nebraska.
Harga diesel AS sempat melonjak ke rekor sekitar US$6,50 per galon pada bulan lalu. Kenaikan ini menjadi perhatian karena diesel banyak digunakan untuk mengangkut barang.
Tekanan harga bahan bakar juga muncul menjelang pemilihan umum sela AS pada 3 November 2026. Dalam pemilu tersebut, kendali atas Kongres AS akan diperebutkan.
Kenaikan harga diesel terjadi di tengah perang AS dengan Iran serta perang Rusia dan Ukraina. Konflik tersebut memicu serangan terhadap sejumlah kilang minyak di Timur Tengah dan Rusia yang turut mengganggu pasokan bahan bakar.
Melalui perintah tersebut, Trump menghapus sementara persyaratan penggunaan kendaraan off road untuk memperoleh diesel bebas pajak. Dengan kebijakan ini, masyarakat dapat membeli diesel berpewarna merah atau red dye diesel.
Diesel berpewarna selama ini banyak digunakan sektor pertanian dan sejumlah kendaraan off road. Trump mengatakan kebijakan tersebut diharapkan tidak perlu diterapkan dalam waktu lama.
“Kami berharap tidak akan membutuhkannya dalam waktu lama,” kata Trump terkait kebijakan tersebut.
Perintah Gedung Putih mengarahkan Menteri Keuangan AS, setelah berkonsultasi dengan Menteri Pertahanan, untuk menunda pembayaran pajak cukai federal atas penggunaan diesel berpewarna untuk kendaraan di jalan raya hingga akhir tahun.
Penundaan tersebut diberikan tanpa bunga maupun penalti. Pemerintah AS juga diminta mengeksplorasi langkah untuk menghapus kewajiban pembayaran pajak yang ditangguhkan tersebut.
Menteri Pertanian AS diminta memastikan petani memperoleh akses terhadap diesel berpewarna di wilayah dengan permintaan tinggi. Menteri Transportasi juga diminta berkoordinasi dengan pemerintah negara bagian, pelaku industri, dan organisasi pekerja untuk memperluas akses bahan bakar tersebut.
Kebijakan ini muncul setelah negara negara G7 pada pekan sebelumnya mengumumkan rencana melepas 100 juta barel diesel ke pasar. Langkah tersebut dilakukan setelah Trump sebelumnya mempertimbangkan pelarangan ekspor diesel AS untuk menekan harga domestik.
Namun, belum jelas berapa besar volume diesel yang benar benar menjadi pasokan baru dan berapa yang merupakan bagian dari pemenuhan kesepakatan global yang telah disepakati pada Maret 2026.
Di sisi politik, tekanan terhadap Trump juga meningkat seiring tingginya biaya hidup di AS. Survei Reuters dan Ipsos yang selesai dilakukan pada Senin menunjukkan tingkat persetujuan terhadap Trump bertahan di level terendah sepanjang masa, yakni 32%.
Biaya hidup menjadi salah satu kekhawatiran utama masyarakat AS. Lonjakan harga bensin dan diesel akibat konflik dengan Iran turut memperbesar tekanan terhadap daya beli rumah tangga.













