JAKARTA, Cobisnis.com – Amerika Serikat menyatakan gencatan senjata dengan Iran masih berlaku, meski situasi di lapangan terus memanas. Uni Emirat Arab melaporkan kembali jadi target serangan rudal dan drone dari Iran pada Selasa (5/5/2026).
Pemerintah UEA menyebut serangan itu eskalasi serius yang mengancam keamanan nasional. Sistem pertahanan udara langsung diaktifkan.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan gencatan senjata resmi masih berjalan. “Kami tidak mencari konflik. Saat ini gencatan senjata masih berlaku, tetapi kami akan terus mengawasi situasi dengan sangat ketat,” ujarnya, dikutip Reuters.
Di Selat Hormuz, jalur pelayaran minyak global dilaporkan terganggu serius. AS mengklaim sudah menghancurkan enam kapal kecil Iran beserta rudal jelajah dan drone dalam operasi terbaru.
Iran membantah dan menuduh AS menargetkan kapal sipil. Media Iran menyebut lima warga sipil tewas, meski belum bisa diverifikasi.
Jenderal Dan Caine menyebut sejak gencatan diumumkan 7 April, Iran sudah beberapa kali serang kapal dagang dan tahan dua kapal kontainer. Lebih dari 10 serangan juga diarahkan ke pasukan AS, tapi belum memicu perang besar.
Serangan juga menyasar UEA. Pelabuhan minyak Fujairah dilaporkan kebakaran akibat rudal Iran, padahal pelabuhan itu jadi jalur ekspor energi penting kawasan.
Iran klaim aksi itu balasan atas aktivitas militer AS. Teheran bahkan rilis peta wilayah maritim yang diklaim di bawah kendali mereka, mencakup area dekat pesisir UEA termasuk Fujairah dan Khorfakkan.
Jalur diplomasi masih coba dipertahankan. Iran sebut perundingan damai masih berjalan lewat mediasi Pakistan, dan pembicaraan dengan China juga sedang dijalankan Menlu Abbas Araqchi.
Tapi proses AS-Iran sendiri masih buntu. Trump tegaskan operasi militer AS-Israel untuk hilangkan ancaman nuklir Iran, sementara Teheran tetap tolak serahkan stok uranium yang diperkaya.













