JAKARTA, Cobisnis.com – Sejumlah keju artisanal paling terkenal di Prancis menghadapi ancaman akibat perubahan iklim. Para ilmuwan dan pembuat keju memperingatkan dampaknya semakin terasa dalam beberapa tahun terakhir.
Gelombang panas yang lebih sering terjadi membuat sapi perah mengalami stres akibat suhu tinggi. Padahal, hewan tersebut biasanya merumput di padang terbuka selama musim panas.
Selain itu, periode kekeringan yang berkepanjangan mengubah banyak padang rumput menjadi lahan kering. Hamparan hijau yang sebelumnya subur kini berubah menjadi area berwarna kuning dan minim pakan alami.
Kondisi tersebut memaksa peternak membeli pakan tambahan untuk memenuhi kebutuhan ternak. Sementara itu, aturan ketat dalam produksi keju tradisional membatasi fleksibilitas peternak dalam mengubah metode pemeliharaan.
Laurent Lours, peternak sapi perah dan pembuat keju yang telah bekerja selama 35 tahun, mengatakan situasi semakin memburuk. Menurutnya, masalah kekurangan rumput yang dulu muncul setiap 15 hingga 20 tahun kini terjadi hampir setiap dua tahun.
Karena itu, produksi susu mulai menurun di sejumlah wilayah. Selain menghasilkan lebih sedikit susu, sapi juga melahirkan anak yang lebih lemah atau dalam jumlah yang lebih sedikit.
Di sisi lain, beberapa produsen keju premium terpaksa menghentikan produksi. Kondisi tersebut menambah kekhawatiran terhadap masa depan industri keju tradisional Prancis.
Selain volume produksi, cita rasa khas keju juga terancam berubah. Banyak keju Prancis bergantung pada karakteristik alam lokal atau terroir yang terbentuk dari jenis rumput dan lingkungan tempat sapi merumput.
Meski begitu, para peternak terus mencari cara untuk beradaptasi. Namun, mereka mengingatkan bahwa perubahan iklim yang semakin ekstrem dapat mengancam keberlangsungan salah satu warisan kuliner paling terkenal di dunia.













