JAKARTA, Cobisnis.com – Gugatan hukum Elon Musk terhadap OpenAI resmi berlanjut ke tahap persidangan, memperpanjang konflik lama antara pendiri Tesla itu dengan CEO OpenAI, Sam Altman, yang sudah berlangsung sejak beberapa tahun terakhir.
Penasihat utama Elon Musk, Marc Toberoff, menyatakan pihaknya menghargai proses hukum yang berjalan dan menilai pengadilan memberikan ruang pertimbangan yang adil. Pernyataan ini disampaikan usai sidang awal bersama Hakim Distrik AS, Yvonne Gonzalez Rogers.
Musk dan Altman diketahui mendirikan OpenAI pada 2015 sebagai lembaga riset kecerdasan buatan nirlaba. Tujuan awalnya adalah mengembangkan AI untuk kepentingan publik, bukan semata keuntungan komersial.
Namun hubungan keduanya mulai retak pada 2018. Musk disebut keluar dari dewan OpenAI setelah gagal meyakinkan Altman agar Tesla mengakuisisi lembaga riset tersebut.
Dalam gugatannya, Musk menuduh OpenAI memberikan jaminan palsu terkait komitmen nirlaba. Ia menilai pimpinan OpenAI secara sadar menyimpang dari misi awal demi keuntungan pribadi.
Toberoff menyebut terdapat bukti substansial bahwa janji-janji tersebut tidak pernah ditepati. Menurutnya, perubahan arah OpenAI menjadi entitas berorientasi profit telah merugikan Musk secara material dan moral.
OpenAI membantah seluruh tuduhan tersebut dan mengajukan mosi penolakan gugatan. Perusahaan menyebut klaim Musk tidak berdasar dan merupakan bagian dari pola tekanan hukum yang berulang.
Konflik ini turut menyeret Microsoft sebagai tergugat. Raksasa teknologi tersebut dituding membantu OpenAI melanggar kewajiban fidusia melalui investasi besar di unit profit OpenAI.
Microsoft diketahui telah menanamkan dana sekitar US$135 miliar di OpenAI. Nilai investasi ini menempatkan OpenAI sebagai salah satu pemain utama dalam industri AI global.
Meski OpenAI sempat berencana mengubah struktur sepenuhnya menjadi perusahaan profit pada 2024, tekanan dari mantan karyawan dan tokoh publik membuat entitas nirlaba tetap memegang kendali.
Di sisi lain, Musk kini menjalankan xAI, perusahaan AI yang bersaing langsung dengan OpenAI, Google, dan Anthropic. xAI sebelumnya berstatus benefit corporation, namun kewajiban sosial tersebut dicabut pada 2025 setelah digabung dengan platform X.
Konflik hukum ini menambah lapisan baru dalam persaingan industri AI global, di mana kepentingan bisnis, etika teknologi, dan tata kelola perusahaan menjadi sorotan utama.














