JAKARTA, Cobisnis.com – Diet satu kali makan sehari atau One Meal A Day (OMAD) kembali menarik perhatian setelah seorang pegiat kebugaran membagikan pengalamannya menjalani pola makan ekstrem tersebut selama satu minggu.
Will Tennyson, kreator konten kebugaran, mencoba diet OMAD tanpa target kebugaran khusus. Ia ingin melihat apakah berat badannya akan turun atau justru naik selama menjalani eksperimen ini.
OMAD merupakan bagian dari metode intermittent fasting. Seluruh kebutuhan kalori harian dikonsumsi dalam satu kali makan, biasanya dalam jendela waktu sekitar satu jam.
Setelah itu, tubuh berpuasa selama hampir 24 jam penuh. Meski demikian, air putih serta minuman tanpa kalori seperti kopi hitam dan teh tetap diperbolehkan.
Di hari pertama, Tennyson mengawali OMAD dengan porsi besar makanan dan tetap menjalani latihan fisik. Awalnya, diet ini belum terasa terlalu mengganggu rutinitas olahraga.
Namun masalah mulai muncul ketika jeda antara olahraga dan waktu makan terasa sangat panjang. Ia mengaku kelelahan berat saat latihan siang hingga sore hari.
Biasanya ia makan sekitar pukul 18.00 waktu setempat. Menjelang waktu tersebut, dorongan untuk makan berlebihan semakin kuat dan sulit dikendalikan.
Memasuki hari keempat, rasa lapar menjadi lebih intens. Ia mengaku lebih sering mengonsumsi kopi untuk menahan rasa lapar, yang secara tidak langsung meningkatkan asupan kafein.
Secara sosial, diet ini juga terasa menyulitkan. Tennyson tidak bisa makan bersama teman, sehingga membuat aktivitas harian terasa lebih terbatas.
Menariknya, pada hari kelima tubuh mulai beradaptasi. Ia mulai bisa membedakan antara lapar fisik dan lapar karena kebiasaan, bahkan sebagian rasa lapar ternyata hanya dehidrasi.
Di akhir percobaan, berat badannya tercatat turun sekitar 1,7 kilogram. Meski hasilnya terlihat positif, ia menilai OMAD terlalu ekstrem dan sulit dijalani dalam jangka panjang.
Secara medis, penurunan insulin selama puasa memang mendorong pembakaran lemak. Namun sejumlah studi juga menyoroti risiko OMAD, termasuk lonjakan gula darah, tekanan darah, hingga risiko kesehatan jantung jika dilakukan terus menerus.














