JAKARTA, Cobisnis.com – Aktivitas industri di Indonesia masih tumbuh pada awal 2026. Namun, kondisi tersebut belum mampu mendorong penyerapan tenaga kerja secara signifikan.
Banyak perusahaan memilih menunda perekrutan karyawan baru. Mereka masih menghadapi ketidakpastian ekonomi dan kenaikan biaya operasional.
Data Bank Indonesia menunjukkan sektor manufaktur tetap berada di zona ekspansi pada kuartal I-2026. Sementara itu, indikator tenaga kerja masih berada di zona kontraksi.
Kondisi tersebut menunjukkan kebutuhan tenaga kerja belum pulih sepenuhnya. Karena itu, peluang kerja baru masih terbatas di berbagai sektor.
Ketua Umum Apindo, Shinta Widjaja Kamdani, mengatakan peningkatan aktivitas industri saat ini lebih dipengaruhi faktor musiman.
Momentum akhir tahun, Imlek, Ramadan, dan Lebaran ikut mendorong kenaikan produksi. Namun, perusahaan menilai permintaan tersebut bersifat sementara.
Karena itu, banyak pelaku usaha memilih meningkatkan kapasitas produksi tanpa menambah pekerja tetap. Mereka lebih fokus memenuhi kebutuhan jangka pendek.
Menurut Shinta, dunia usaha saat ini lebih mengutamakan efisiensi. Selain itu, kondisi pasar domestik dan global masih belum stabil.
Situasi tersebut membuat perusahaan lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan bisnis. Termasuk dalam membuka lowongan pekerjaan baru.
Di sisi lain, biaya usaha terus meningkat. Kenaikan terjadi pada sektor energi, logistik, dan pembiayaan.
Akibatnya, perusahaan berupaya memaksimalkan sumber daya yang sudah tersedia. Mereka juga menekan pengeluaran agar tetap kompetitif.
Selain faktor biaya, beban ketenagakerjaan di sektor formal turut menjadi pertimbangan. Risiko dan biaya pengelolaan tenaga kerja membuat perusahaan lebih selektif saat merekrut karyawan.
Meski begitu, Apindo menilai peluang perbaikan masih terbuka. Organisasi tersebut mendorong pemerintah mengambil langkah yang lebih konkret.
Pemerintah perlu menjaga stabilitas ekonomi dan mengendalikan inflasi. Selain itu, penyederhanaan regulasi juga dinilai penting.
Apindo juga mendorong penurunan biaya energi, logistik, dan pembiayaan. Sementara itu, akses kredit yang lebih terjangkau dapat membantu sektor padat karya berkembang.
Di sisi lain, investasi pada sektor produktif perlu terus ditingkatkan. Langkah tersebut diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja baru dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.













