JAKARTA, Cobisnis.com – Kembali beroperasinya dua fasilitas pengolahan tembaga milik PT Freeport Indonesia (PTFI) menjadi momentum dalam memperkuat hilirisasi tembaga nasional. Operasional PT Smelting dan Smelter Manyar di Gresik, Jawa Timur, dinilai dapat meningkatkan pengolahan konsentrat tembaga sekaligus memperkuat pengembangan industri turunan berbasis tembaga di dalam negeri.
Direktur Eksekutif Indonesia Mining & Energy Watch (IMEW) Ferdy Hasiman menyambut positif kembali beroperasinya kedua fasilitas pengolahan tembaga milik PTFI tersebut. Menurut Ferdy, keberadaan smelter tembaga PTFI sebagai salah satu fasilitas terbesar dapat membuat pengolahan konsentrat menjadi lebih optimal.
PT Smelting sebelumnya sempat dihentikan sementara sejak 8 Agustus 2026 untuk perbaikan fasilitas furnace. Sementara itu, Smelter Manyar kembali beroperasi setelah sebelumnya terdampak penghentian operasi pascainsiden di tambang Grasberg.
Berdasarkan laporan kuartal III 2026 Freeport-McMoRan (FCX), kapasitas peleburan gabungan PTFI, termasuk PT Smelting, ditargetkan mampu menghasilkan hingga sekitar 800 ribu ton katoda tembaga per tahun. Kapasitas tersebut menjadi bagian penting dalam rantai nilai tembaga nasional, mulai dari pengolahan konsentrat hingga menghasilkan produk bernilai tambah.
Pemerintah melalui MIND ID yang saat ini menjadi pemegang saham Freeport Indonesia terus mendorong penguatan hilirisasi tembaga. Upaya tersebut diarahkan agar tembaga Indonesia tidak hanya diekspor dalam bentuk ore mentah, tetapi dapat diolah menjadi bahan baku industri atau produk hilir yang memberikan nilai ekonomi dan penerimaan negara lebih besar.
Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan pemulihan operasional fasilitas pengolahan Freeport menunjukkan perkembangan positif. Smelter Manyar kembali menerima konsentrat pada Agustus dan mulai memproduksi katoda tembaga pada September setelah sebelumnya pasokan konsentrat yang terbatas diprioritaskan untuk PT Smelting.
Yusuf berharap peningkatan kapasitas smelter dapat terus berlangsung secara bertahap seiring dengan pemulihan produksi tambang Grasberg yang ditargetkan pada akhir 2027. Menurutnya, periode pemulihan tersebut dapat menjadi momentum untuk memperkuat ekosistem industri hilir tembaga nasional.
Peningkatan kapasitas smelter, menurut Yusuf, perlu diikuti dengan pengembangan industri pengolahan lanjutan agar semakin banyak nilai tambah komoditas tembaga berada di dalam negeri. Pengembangan tersebut menjadi penting karena kapasitas industri pengolahan katoda domestik saat ini masih belum cukup besar.
Yusuf mencatat sekitar tiga perempat produksi katoda PT Smelting masih diekspor karena industri pengolahan katoda domestik belum cukup besar. Kondisi tersebut sekaligus menunjukkan adanya peluang pengembangan industri turunan tembaga di Indonesia yang nantinya dapat diorkestrasi pemerintah melalui MIND ID.
“Persoalannya bukan sekadar ada atau tidak ada permintaan. Yang juga menentukan adalah harga, kepastian kontrak jangka panjang, spesifikasi produk, dan pola pasokan industri,” ujar Yusuf.
Menurut Yusuf, Indonesia memiliki posisi strategis karena didukung cadangan tembaga yang besar. Namun, pengembangan industri hilir perlu diarahkan secara konsisten pada produk bernilai tambah lebih tinggi seperti batang tembaga, kawat, kabel, hingga copper foil untuk mendukung ekosistem kendaraan listrik.
Kembali beroperasinya PT Smelting dan Smelter Manyar dengan demikian tidak hanya berkaitan dengan pemulihan fasilitas pengolahan. Penguatan kapasitas tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperluas rantai nilai tembaga di dalam negeri dan mendorong pengembangan industri hilir berbasis komoditas tersebut.













