JAKARTA, Cobisnis.com – Pasar saham Amerika Serikat mencatat reli tajam pada Jumat setelah tekanan besar di sektor teknologi akhirnya mereda. Investor kembali memborong saham yang sebelumnya tertekan, mendorong indeks Dow Jones melonjak 1.207 poin atau 2,47% dan menembus level 50.000 poin untuk pertama kalinya dalam sejarah.
Indeks Nasdaq yang didominasi saham teknologi naik 2,18%, sementara S&P 500 menguat 1,97%. Dow Jones dan S&P 500 mencatatkan kinerja harian terbaik sejak Mei, sedangkan Nasdaq membukukan hari terbaiknya sejak November.
Kebangkitan ini terjadi setelah Nasdaq mengalami penurunan tiga hari terburuk sejak April, yang sempat memangkas nilai pasar lebih dari US$1,5 triliun sepanjang pekan. Aksi jual saham teknologi sebelumnya dipicu oleh kekhawatiran investor terhadap masa depan industri perangkat lunak dan belanja besar perusahaan teknologi untuk kecerdasan buatan (AI).
Beberapa faktor utama yang mengguncang Wall Street dalam beberapa hari terakhir antara lain kekhawatiran AI akan mengganggu model bisnis perusahaan perangkat lunak, skeptisisme investor terhadap belanja masif pusat data oleh raksasa teknologi, serta valuasi saham teknologi yang sudah terlampau mahal setelah reli panjang dalam beberapa tahun terakhir.
“Beberapa bulan terakhir menunjukkan pergeseran dari anggapan bahwa semua saham teknologi pasti menang, menuju lanskap yang jauh lebih keras dengan pemenang dan pecundang yang jelas,” ujar Kepala Riset Makro Global Deutsche Bank, Jim Reid.
Tekanan juga datang dari pelemahan aset berisiko seperti bitcoin, yang sempat jatuh ke level terendah sejak Oktober 2024. Namun, bitcoin ikut bangkit pada Jumat dengan lonjakan sekitar 10% ke kisaran US$70.000.
Saham Perangkat Lunak Tertekan Kekhawatiran AI
Kecemasan investor semakin meningkat setelah startup AI Anthropic merilis alat baru yang diklaim mampu menggantikan berbagai tugas di sektor hukum. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa perusahaan dapat mengurangi langganan perangkat lunak khusus, yang berpotensi memangkas pendapatan perusahaan software.
Dampaknya, saham perusahaan perangkat lunak legal dan keuangan langsung dilepas investor. Kekhawatiran serupa sebenarnya sudah lama membayangi sektor ini. Salesforce, misalnya, tercatat turun 20% sepanjang 2025 dan anjlok 28% sejak awal tahun.
Belanja Besar Raksasa Teknologi Jadi Sorotan
Musim laporan keuangan perusahaan juga menambah tekanan pasar. Investor masih mempertanyakan apakah belanja besar-besaran untuk membangun pusat data AI akan benar-benar menghasilkan keuntungan.
Microsoft, Alphabet, dan Amazon dalam sepekan terakhir mengumumkan rencana peningkatan belanja infrastruktur. Namun, pasar menuntut bukti nyata bahwa investasi tersebut akan berujung pada pertumbuhan laba. Saham Microsoft sempat turun 10% setelah laporan keuangan akhir Januari, sementara saham Amazon melemah sekitar 5,6% usai merilis kinerja terbarunya.
“Pasar hanya menghargai investasi AI jika disertai pertumbuhan pendapatan yang jelas dan berkelanjutan,” kata analis Global X ETFs, Seana Smith.
Valuasi Tinggi Membuat Saham Rentan
Tema AI telah mendorong pasar saham naik signifikan selama tiga tahun terakhir. Namun, sebagian investor kini mulai ragu membayar harga tinggi tersebut. Saham AMD sempat anjlok 17% setelah proyeksi pendapatannya meleset dari ekspektasi, meski berhasil bangkit 8% pada Jumat.
Beberapa saham AI unggulan juga mengalami koreksi tajam. Palantir, yang melonjak ratusan persen dalam dua tahun terakhir, kini turun 35% dari rekor tertingginya. Sementara itu, saham Oracle merosot 59% sejak mencapai puncak pada September lalu.
“Transaksi yang terlalu padat sulit untuk ditinggalkan dengan rapi,” ujar Kepala Strategi Interactive Brokers, Steve Sosnick.
Pasar Mulai Selektif
Jika sebelumnya hampir semua saham terkait AI diuntungkan, kini investor mulai memilah perusahaan mana yang benar-benar memiliki prospek jangka panjang.
“Konsensus terhadap perusahaan perangkat lunak telah berbalik. Mereka kini dipandang sebagai korban AI, bukan penerima manfaat,” kata Sosnick.
Meski demikian, sejumlah analis menilai aksi jual sebelumnya terlalu berlebihan. CEO Nvidia Jensen Huang menyebut anggapan bahwa AI akan sepenuhnya menggantikan perangkat lunak sebagai sesuatu yang tidak logis. Sentimen serupa disampaikan Barclays, yang menilai skenario tersebut tidak realistis.
ETF sektor perangkat lunak pun naik sekitar 3% pada Jumat, menghentikan tren penurunan delapan hari berturut-turut. Saham chipmaker juga ikut melonjak, dengan Nvidia mencatat kenaikan hampir 8% dalam satu hari.
“Ketika tekanan dilepas secepat ini di sektor Big Tech, pantulannya bisa sangat dramatis,” ujar analis Franklin Templeton, Chris Galipeau.













