JAKARTA, Cobisnis.com – Kasus serangan jantung pada usia muda semakin menjadi perhatian dalam beberapa tahun terakhir. Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dr. Bobby Arfhan Anwar mengungkapkan bahwa merokok menjadi faktor risiko terbesar yang memicu penyempitan pembuluh darah jantung pada kelompok usia muda.
Menurut dr. Bobby, penyempitan pembuluh darah tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan akibat kebiasaan merokok yang dilakukan selama bertahun-tahun. Ia bahkan pernah menangani pasien berusia 31 tahun yang mengalami penyakit jantung akibat kebiasaan merokok sejak remaja.
“Paling banyak faktor risikonya merokok. Jadi faktor risiko yang paling cepat bikin seseorang penyempitan di usia muda itu perokok,” kata dr. Bobby. Ia menjelaskan bahwa plak pada pembuluh darah umumnya mulai terbentuk sekitar 10 tahun setelah seseorang rutin merokok.
Selain merokok, obesitas juga menjadi faktor penting yang meningkatkan risiko serangan jantung pada usia muda. Kondisi ini sering disertai penyakit penyerta seperti hipertensi, diabetes, dan kolesterol tinggi yang semakin memperbesar risiko gangguan pada jantung.
Dr. Bobby menilai obesitas tidak berdiri sendiri sebagai penyebab penyakit jantung. Menurutnya, kelebihan berat badan biasanya diikuti gaya hidup kurang aktif sehingga memicu berbagai gangguan metabolik yang berdampak pada kesehatan pembuluh darah.
Selain kedua faktor tersebut, riwayat genetik juga dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami penyakit jantung di usia muda. Namun, sebagian besar kasus tetap berkaitan erat dengan pola hidup yang kurang sehat, seperti minim olahraga, pola makan buruk, dan kebiasaan merokok.
Untuk mengurangi risiko, masyarakat dianjurkan menerapkan gaya hidup sehat sejak dini. Berhenti merokok, menjaga berat badan ideal, rutin berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi, tidur cukup, serta mengelola stres menjadi langkah penting dalam menjaga kesehatan jantung.
Dokter juga mengingatkan agar tidak mengabaikan gejala seperti nyeri dada, sesak napas, atau jantung berdebar, terutama jika memiliki faktor risiko. Pemeriksaan kesehatan secara berkala dapat membantu mendeteksi gangguan jantung lebih awal sehingga penanganan dapat dilakukan sebelum kondisi berkembang menjadi lebih serius.













