JAKARTA, Cobisnis.com – Lebih dari delapan dekade setelah pertama kali dibangun secara diam-diam, fasilitas bunker bawah tanah di bawah Sayap Timur Gedung Putih kembali menjadi pusat perhatian. Proyek pembangunan ulang ruang bawah tanah yang sangat rahasia itu kini berlangsung seiring renovasi besar-besaran Sayap Timur, termasuk rencana pembangunan ballroom baru Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Sejarah bunker ini bermula pada 1941, ketika Presiden Franklin D. Roosevelt memerintahkan pembangunan fasilitas perlindungan bawah tanah setelah serangan Jepang ke Pearl Harbor. Saat itu, publik hanya diberi tahu tentang pembangunan Sayap Timur, tanpa pengakuan resmi mengenai keberadaan bunker. Fasilitas tersebut kemudian berkembang menjadi kompleks bawah tanah multifungsi, termasuk Presidential Emergency Operations Center (PEOC), pusat komando darurat presiden.
Selama puluhan tahun, ruang bawah tanah ini digunakan untuk berbagai keperluan sensitif, mulai dari pusat perencanaan krisis hingga tempat evakuasi presiden. Pada 11 September 2001, Wakil Presiden Dick Cheney dievakuasi ke fasilitas tersebut sesaat sebelum serangan ke Pentagon. Di era pemerintahan berikutnya, ruang ini juga digunakan untuk perencanaan perjalanan rahasia Presiden Joe Biden ke Ukraina.
Kini, fasilitas lama yang dibangun dengan teknologi era 1940-an itu telah dibongkar bersamaan dengan renovasi Sayap Timur. Sumber yang mengetahui proyek tersebut menyebutkan bahwa bunker lama kemungkinan besar digantikan dengan infrastruktur baru yang dirancang untuk menghadapi ancaman modern, mulai dari serangan nuklir, senjata kimia dan biologis, hingga pulsa elektromagnetik.
Meski demikian, hampir tidak ada informasi publik mengenai detail proyek ini. Dalam rapat National Capital Planning Commission (NCPC), Direktur Manajemen dan Administrasi Gedung Putih Joshua Fisher mengakui bahwa pekerjaan bawah tanah tersebut bersifat “rahasia tingkat tinggi”. Ia menyebut proyek ini berkaitan langsung dengan peningkatan fungsi vital misi kepresidenan dan keamanan nasional, sehingga tidak sepenuhnya mengikuti prosedur persetujuan biasa.
Gedung Putih menolak memberikan komentar resmi. Namun dalam dokumen pengadilan terkait gugatan yang berupaya menghentikan pembangunan Sayap Timur, pihak Gedung Putih menegaskan bahwa penghentian konstruksi bawah tanah dapat membahayakan keamanan nasional. Alasan tersebut, menurut mereka, dijelaskan dalam dokumen rahasia yang diklasifikasikan.
Menurut sumber yang pernah memasuki fasilitas lama, bunker tersebut menyerupai “kapal selam bawah tanah” dengan pintu baja besar, pasokan makanan dan air mandiri, sistem komunikasi aman, serta jalur evakuasi khusus. Namun, seluruh infrastruktur itu sudah usang. Renovasi terbaru diyakini akan menghadirkan teknologi mutakhir dengan tingkat kerahasiaan tinggi.
Dari sisi pendanaan, proyek ini dipastikan menelan biaya besar. Trump menyebut biaya pembangunan ballroom meningkat dari US$200 juta menjadi sekitar US$400 juta, yang katanya akan ditanggung donor swasta. Namun, infrastruktur keamanan bawah tanah diperkirakan dibiayai oleh dana publik, meski besarannya hampir mustahil diketahui karena alasan keamanan.
Para pakar keamanan menilai, fasilitas baru ini akan dirancang untuk bertahan menghadapi ancaman masa kini dan masa depan tanpa membuka celah informasi bagi pihak asing. Dengan tingkat klasifikasi yang sangat tinggi, publik kemungkinan tidak akan pernah mengetahui secara rinci apa yang sebenarnya dibangun di bawah Gedung Putih.














