Cobisnis.com – Perusahaan teknologi diprediksi akan melakukan guncangan terhadap gerakan hijau (Go Green). Pembangunan data center dan jaringannya diperkirakan bakal memakan sekitar 1% listrik dunia.
Menurut Badan Energi Internasional, pembangunan data center saat ini telah melebihi kebutuhan untuk kendaraan listrik. Angka ini akan menjadi dua digit di tahun 2030 sehingga menimbulkan masalah emisi.
Operasional infrastruktur di balik teknologi seperti aplikasi konferensi video dan pesta-pesta “The Crown” di Netflix sebagian besar terdiri dari dua bagian: bangunan yang menampung puluhan ribu server dan jaringan yang menghubungkan server ke smartphone, PC, dan perangkat lain.
Keduanya membutuhkan listrik dalam jumlah besar. Data center menggunakan sekitar 200 terawatt-jam setahun. Menurut sebuah studi tahun 2018 yang dipimpin Eric Masanet, seorang insinyur di Universitas Northwestern di AS, angka itu sama dengan konsumsi tahunan listrik di Australia.
Kabar baiknya adalah angka tersebut hampir tidak meningkat selama satu dekade terakhir. Bahkan saat volume data berlipat ganda, jaringan dan kumpulan server, terutama yang disebut pusat hiperskala yang dioperasikan raksasa Amazon.com, Microsoft, Google, semuanya telah menjadi hemat energi.
Memang, jika memperkirakan seberapa besar konsumsi energi akan meningkat pasti hasilnya akan bervariasi. Namun untuk beberapa negara, data mungkin bisa menyedot persentase energi dua digit.
Operator listrik Irlandia, misalnya, pada tahun 2018 memperkirakan data center di negara tersebut dapat memenuhi hampir 30% dari permintaan listrik pada tahun 2028. Akademi Teknik Irlandia memperkirakan angka itu akan menambah setidaknya 1,5 juta ton emisi karbon, 13% dari sektor kelistrikan total saat ini.
Dilansir Breakingviews Reuters, perusahaan teknologi raksasa adalah salah satu pembeli energi terbarukan terbesar di dunia. Inilah yang membuat perusahaan teknologi di berbagai negara menjadi perhatian investor yang berorientasi pada lingkungan, sosial, dan tata kelola atau dikenal juga Environmental, Social, and Governance (ESG).
Agenda utama terkait emisi adalah adalah bagaimana mendorong perusahaan mengungkapkan tentang penggunaan energi dan emisi secara lebih baik. Bahkan, lebih bagus lagi jika menghubungkannya dengan solusi teknologi yang memiliki pelanggan massal seperti Netflix dan Zoom Video Communications.
Januari 2020, Microsoft meluncurkan alat (tools) untuk membantu klien perusahaan menganalisis emisi terkait layanan cloud mereka. Langkah ini dinilai sebagai kebijakan yang tepat menuju arah yang benar, tetapi investor LST mungkin menuntut lebih banyak pada tahun 2021.














