JAKARTA, Cobisnis.com – Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara tengah menyiapkan konsolidasi perusahaan asuransi milik negara. Proses merger tersebut ditargetkan rampung pada akhir 2026, dengan jumlah perusahaan yang semula 16 dipangkas menjadi tiga.
Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, mengatakan tiga perusahaan hasil konsolidasi nantinya akan bergerak di bidang asuransi jiwa, asuransi umum, dan asuransi kredit. Langkah ini ditujukan untuk menyederhanakan struktur bisnis asuransi BUMN.
Khusus sektor asuransi kredit dan penjaminan, pemerintah berencana menggabungkan PT Jaminan Kredit Indonesia (Jamkrindo), PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo), dan PT Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo). Namun, hingga kini belum ada kepastian mengenai perusahaan yang akan menjadi induk holding tersebut.
Pengamat BUMN Herry Gunawan menilai konsolidasi diperlukan untuk meningkatkan efisiensi bisnis asuransi pelat merah. Menurutnya, sejumlah perusahaan selama ini beroperasi di segmen pasar yang saling beririsan sehingga berpotensi menimbulkan persaingan internal.
Herry menilai penggabungan ketiga perusahaan perlu mempertimbangkan fokus bisnis masing-masing. Salah satu pendekatan yang dapat dipertimbangkan adalah memilih satu perusahaan sebagai induk, kemudian mengintegrasikan dua perusahaan lainnya ke dalam struktur baru.
Ia juga menilai Indonesia Financial Group (IFG), sebagai holding asuransi, dapat berperan mengoordinasikan bisnis dan menjaga fokus operasional perusahaan. Herry mengusulkan pembentukan subholding baru di bawah IFG untuk mengelola bisnis asuransi kredit dan penjaminan.
Menurut Herry, Jamkrindo dan Askrindo menjadi dua kandidat yang layak dipertimbangkan sebagai induk. Keduanya dinilai memiliki ukuran usaha dan pengalaman yang dapat menjadi modal untuk pengembangan tata kelola, manajemen risiko, serta model bisnis.
Meski demikian, Herry cenderung menilai Jamkrindo lebih berpeluang menjadi perusahaan induk atau survival company. Penilaian tersebut merupakan pandangan pengamat, bukan keputusan resmi pemerintah mengenai struktur holding yang akan dibentuk.
Jamkrindo memiliki bisnis penjaminan kredit, termasuk penjaminan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan program pemerintah lainnya. Perusahaan ini berawal dari Lembaga Jaminan Kredit Koperasi yang didirikan pada 1970 sebelum berkembang menjadi perusahaan penjaminan kredit.
Sementara itu, Jasindo bergerak di bidang asuransi umum, sedangkan Askrindo memiliki peran dalam penjaminan kredit untuk mendukung usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Perbedaan fokus bisnis ketiganya menjadi salah satu pertimbangan dalam proses konsolidasi.
Hingga saat ini, nama perusahaan yang akan menjadi induk holding asuransi kredit dan penjaminan belum diumumkan. Keputusan akhir akan menentukan bagaimana perusahaan-perusahaan tersebut disatukan untuk meningkatkan efisiensi dan memperkuat daya saing bisnis asuransi BUMN.













