JAKARTA, Cobisnis.com – Ahli diet asal Amerika Serikat, Karen Ansel, RDN, mencoba pola sarapan ekstrem dengan hanya mengonsumsi putih telur selama 14 hari berturut-turut. Eksperimen ini dilakukan untuk menilai dampaknya terhadap rasa kenyang, energi harian, dan aktivitas fisik.
Putih telur dipilih karena profil gizinya yang dianggap “bersih”. Kandungan kalori dan lemaknya rendah, tetapi protein tetap tinggi, sehingga kerap jadi andalan dalam pola makan berbasis diet dan kebugaran.
Dalam praktiknya, Ansel mengonsumsi dua sampai tiga putih telur setiap pagi. Menu tersebut biasanya dipadukan dengan sayuran hijau seperti bayam atau daun bawang, serta tambahan buah agar tetap ada variasi.
Selama dua minggu menjalani pola ini, efek kenyang terasa cukup signifikan. Ia mengaku tidak mudah lapar di pagi hari dan bisa bertahan hingga waktu makan siang tanpa camilan tambahan.
Manfaat lain dirasakan saat berolahraga. Putih telur rebus sebelum latihan pagi dinilai ringan di perut, tetapi tetap memberi pasokan energi yang stabil selama sesi latihan berlangsung.
Tidak ada rasa begah atau kembung yang mengganggu, kondisi yang sebelumnya kerap muncul saat ia mengonsumsi sarapan dengan porsi lebih berat atau tinggi karbohidrat.
Meski efektif secara fungsi, tantangan muncul dari sisi kenyamanan makan. Setelah beberapa hari, rasa bosan mulai terasa karena tekstur dan cita rasa putih telur yang terbatas.
Berbagai cara pengolahan dicoba untuk mengatasi kejenuhan, namun hasilnya tidak selalu memuaskan. Beberapa menu justru menghasilkan tekstur terlalu kenyal dan kurang menggugah selera.
Hal yang paling terasa hilang selama eksperimen adalah kuning telur. Dari segi rasa hingga tampilan, kuning telur memberi kepuasan tersendiri yang tidak bisa digantikan putih telur.
Selain itu, kuning telur menyimpan banyak nutrisi penting, mulai dari vitamin B, D, dan E, hingga mineral seperti zat besi, zinc, serta kolin yang berperan dalam fungsi otak.
Masalah lain yang muncul adalah pemborosan bahan makanan. Banyak kuning telur terbuang karena tidak seluruhnya bisa dimanfaatkan untuk menu lain.
Usai dua minggu, Ansel memutuskan kembali mengonsumsi telur utuh saat sarapan. Namun, ia tetap mempertahankan kebiasaan makan putih telur rebus sebelum olahraga karena manfaatnya dirasa cukup nyata.













