JAKARTA, Cobisnis.com – Coki Pardede membagikan pandangannya soal public speaking dalam diskusi bertema “Coki Pardede jadi Dosen Public Speaking | The Trial”. Menurutnya, kemampuan berbicara di depan publik tidak hanya soal teknik, tetapi juga bagaimana seseorang memahami tujuan komunikasinya.
Coki menjelaskan, cara menyampaikan pesan harus disesuaikan dengan tujuan komunikasi. Penyampaian untuk menghibur, memberikan informasi, atau sekadar berbicara membutuhkan pendekatan yang berbeda.
Ia juga membahas rasa gugup yang sering muncul sebelum seseorang tampil di depan banyak orang. Menurut Coki, nervous bukan sesuatu yang harus dihilangkan karena bisa menjadi tanda bahwa seseorang menganggap apa yang akan dilakukan sebagai sesuatu yang penting.
“Nervous itu tanda bahwa lu punya kesadaran, lu punya kedewasaan bahwa apa yang akan lo lakukan itu penting,” dikutip dari kanal YouTube MALAKA, Jumat (25/9/2026).
Menurut Coki, rasa gugup justru bisa diarahkan menjadi dorongan untuk melakukan persiapan dengan lebih baik. Persiapan tersebut mencakup memahami materi, memeriksa sumber, memastikan poin yang disampaikan masuk akal, serta berlatih sebelum tampil.
Ia juga menyoroti persoalan asumsi yang kerap muncul di kepala seseorang ketika harus berbicara di depan orang yang dianggap lebih penting atau berpengaruh. Menurutnya, asumsi bahwa audiens akan menilai atau menghakimi dapat mengganggu fokus saat menyampaikan pesan.
Dalam kondisi tersebut, Coki mengingatkan bahwa audiens yang sudah hadir pada dasarnya telah menyediakan waktu untuk mendengarkan. Karena itu, energi pembicara seharusnya lebih banyak digunakan untuk menyampaikan informasi daripada memikirkan asumsi yang belum tentu benar.
Coki kemudian menekankan bahwa public speaking di era banjir informasi memiliki tantangan tersendiri. Ketika informasi bisa diperoleh dengan mudah melalui internet dan teknologi, pembicara perlu membuat pesan yang relevan dan menarik bagi audiens.
Menurutnya, informasi yang sebenarnya bermanfaat belum tentu terasa penting bagi setiap pendengar. Pembicara perlu menemukan hubungan antara materi yang dibawa dengan kebutuhan orang yang mendengarkannya.
Ia juga mengingatkan agar pembicara tidak terlalu sibuk menggunakan istilah rumit atau permainan kata hanya untuk terlihat pintar. Menurut Coki, hal tersebut justru bisa membuat pesan utama sulit diterima audiens.
“Lu pengin dianggap pintar atau lu pengin tugas lu selesai? Karena itu dua hal yang berbeda, Teman-teman,” dikutip dari kanal YouTube MALAKA, Jumat (25/9/2026).
Coki menilai tujuan utama public speaking tetap berada pada pesan yang ingin disampaikan. Menurutnya, penggunaan hook, quote, atau gaya bahasa tertentu seharusnya membantu pesan menjadi lebih mudah diterima, bukan justru mengambil perhatian dari materi utama.
Pada akhirnya, kemampuan public speaking menurut Coki bukan sekadar tentang seberapa banyak seseorang mengetahui sesuatu. Yang tidak kalah penting adalah kemampuan menyampaikan apa yang ada di pikiran secara jelas sehingga informasi tersebut dapat sampai kepada orang lain.












