JAKARTA, Cobisnis.com – Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat ikut menyeret sosok Ibu Negara Cilia Flores. Peristiwa ini langsung menjadi sorotan internasional karena Cilia bukan figur simbolik, melainkan aktor politik aktif di lingkar kekuasaan Venezuela.
Cilia Flores ditangkap bersama Maduro di Caracas pada Sabtu (3/1/2026). Keduanya diterbangkan menggunakan helikopter militer AS menuju kapal perang USS Iwo Jima sebelum dibawa ke New York untuk menghadapi proses hukum.
Otoritas Amerika Serikat menjerat Cilia Flores dengan dakwaan pidana serius. Tuduhan yang disampaikan mencakup konspirasi narkoterorisme, impor kokain lintas negara, serta dugaan keterlibatan dalam jaringan kriminal internasional.
Jaksa Agung AS menyebut dakwaan tersebut berkaitan langsung dengan struktur kekuasaan keluarga Maduro. Cilia dinilai memiliki posisi strategis yang memungkinkan terjadinya konsolidasi kekuatan politik dan ekonomi.
Di dalam negeri Venezuela, Cilia Flores dikenal sebagai tokoh politik senior. Ia menjabat sebagai anggota Majelis Nasional sejak 2015 dan pernah menjadi Jaksa Agung pada periode 2012–2013.
Peran Cilia dalam politik Venezuela bahkan sudah berlangsung sejak era Hugo Chavez. Pada 1994, ia terlibat dalam upaya pembelaan hukum yang membantu pembebasan Chavez dari penjara.
Kedekatan tersebut membuat Cilia dipercaya mengisi posisi penting di pemerintahan setelah Chavez berkuasa. Hubungan politik itu terus berlanjut hingga era kepemimpinan Nicolas Maduro.
Maduro sendiri kerap menggambarkan istrinya sebagai sosok tegas dan ambisius. Menurutnya, karakter Cilia di parlemen tidak berbeda dengan perannya di lingkup domestik dan politik internal.
Penangkapan Cilia memperluas dimensi konflik geopolitik antara AS dan Venezuela. Kasus ini tak lagi sekadar menyasar kepala negara, tetapi juga lingkar keluarga inti kekuasaan.
Di tengah tekanan internasional, pemerintah Venezuela menyebut penangkapan ini sebagai tindakan agresi politik. Sementara AS menegaskan langkah tersebut murni penegakan hukum.
Kasus ini berpotensi memicu eskalasi politik di kawasan Amerika Latin, sekaligus mempertegas perubahan peta kekuatan geopolitik global yang semakin terbuka dan konfrontatif.














