JAKARTA, Cobisnis.com – Biaya pernikahan di India picu utang keluarga bagi banyak pasangan muda yang baru memulai hidup rumah tangga. Di banyak kota besar, pesta pernikahan sering menghabiskan tabungan keluarga bahkan memaksa mereka mengambil pinjaman.
Di Mumbai, Naveena Vanamala harus mengatur sendiri hari pernikahannya setelah ayahnya meninggal enam bulan sebelumnya. Namun, biaya acara terus naik hingga dua kali lipat dari rencana awal.
Naveena yang bekerja di bidang pemasaran media sosial hanya berpenghasilan sekitar US$145 per bulan. Karena itu, ia mengambil pinjaman bank untuk menutup kebutuhan pesta.
Tunangan Naveena, Saikiran Dusa, juga kembali meminjam uang dengan jaminan rumah. Meski begitu, pasangan tersebut tetap melanjutkan pesta karena tekanan sosial dianggap terlalu besar untuk dihindari.
Di India, pernikahan sering berlangsung beberapa hari dan melibatkan ratusan tamu. Selain itu, keluarga pengantin perempuan umumnya menanggung sebagian besar biaya acara.
Analis menyebut industri pernikahan India bernilai sekitar US$130 miliar setiap tahun. Angka itu menjadikannya salah satu sektor konsumsi terbesar di negara tersebut.
Pada kelas menengah atas, pesta pernikahan bisa menghadirkan dekorasi besar, ribuan tamu, dan pertunjukan tari profesional. Bahkan, beberapa keluarga mengeluarkan dana ratusan ribu dolar untuk satu acara.
Di Delhi, keluarga Kaveri Mehta menggelar pesta besar dengan ratusan tamu dan dukungan sekitar 150 pekerja acara. Namun, keluarga mengaku sulit memangkas daftar undangan karena tuntutan sosial.
Perencana pernikahan mewah Vikramjeet Sharma mengatakan kliennya biasa menghabiskan US$500 ribu hingga US$3 juta. Karena itu, pernikahan kini juga menjadi simbol status sosial.
Sementara itu, keluarga berpenghasilan rendah mulai memilih pernikahan massal agar biaya lebih ringan. Model ini membantu banyak orang menghindari utang besar dan tuntutan pemberian mahar tidak resmi.













