JAKARTA, Cobisis.com – Pemerintah Amerika Serikat disebut masih berharap tidak perlu menjatuhkan sanksi sekunder kepada China terkait pembelian minyak mentah Iran.
Opsi sanksi tersebut saat ini masih disimpan Washington sebagai langkah tekanan jika diperlukan di tengah ketegangan dengan Iran.
Mantan pejabat keamanan nasional AS Mark Pfeifle mengatakan pemerintahan Donald Trump kemungkinan tetap mempertahankan opsi tersebut sebagai alat untuk menghadapi perkembangan situasi Iran.
“Saya pikir Trump dan Departemen Keuangannya akan menyimpan opsi itu sebagai langkah yang dapat digunakan jika memang diperlukan,” ujar Pfeifle kepada Al Jazeera, Minggu (30/8/2026).
Menurut Pfeifle, penerapan sanksi secara luas terhadap China berpotensi memicu persoalan diplomatik. Hubungan ekonomi AS dan China yang masih saling bergantung membuat Washington perlu memperhitungkan dampak sebelum mengambil langkah.
Untuk saat ini, AS disebut berupaya mendorong China mencari sumber minyak alternatif. Langkah tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan Beijing terhadap minyak Iran yang berada di bawah sanksi.
Pfeifle mengatakan kilang minyak China selama ini membeli minyak mentah Iran dengan harga lebih murah. Kondisi tersebut memberikan keuntungan bagi perusahaan China dibandingkan pesaingnya di pasar global.
Ia juga menilai Beijing tidak menunjukkan keinginan membantu Washington dalam menghadapi Iran. China bahkan diduga tetap memberikan dukungan kepada Teheran secara diam-diam.
“China memainkan strategi jangka panjang. Mereka tidak keberatan melihat Amerika Serikat terseret dalam petualangan internasional lain seperti perang di Iran,” kata Pfeifle.
Xi Jinping Dijadwalkan Bertemu Trump
Ketegangan AS dan China terkait kebijakan Iran berlangsung menjelang rencana pertemuan Presiden China Xi Jinping dengan Trump di Washington DC.
Xi dijadwalkan datang ke Washington pada 24 September untuk menghadiri pertemuan tingkat tinggi dengan Trump.
Pertemuan tersebut berpotensi menjadi momentum bagi kedua negara untuk membahas hubungan ekonomi, energi, serta perkembangan konflik di Timur Tengah.
Di tengah ketegangan tersebut, Menteri Energi Israel Eli Cohen memperingatkan Israel akan kembali menyerang Iran jika Teheran berusaha menghidupkan kembali program nuklir atau rudalnya.
“Jika Iran melakukan kesalahan dengan mencoba menghidupkan kembali program nuklir atau program rudalnya, bahkan jika ada kesepakatan dengan Amerika Serikat, kami akan berada di sana untuk menyerang,” ujar Cohen.
Cohen juga mengklaim serangan gabungan AS dan Israel telah menghambat program nuklir Iran selama dua hingga empat tahun.













