JAKARTA, Cobisnis.com – Pemerintah Amerika Serikat melalui Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan (HHS) mengumumkan perubahan besar pada jadwal vaksinasi anak, dengan merekomendasikan jumlah vaksin yang lebih sedikit bagi sebagian besar anak-anak di AS.
Pejabat kesehatan tetap merekomendasikan vaksin campak, gondongan, dan rubella (MMR), serta imunisasi polio, cacar air, HPV, dan sejumlah vaksin lainnya. Namun, rekomendasi vaksin untuk penyakit meningokokus, hepatitis B, dan hepatitis A kini dipersempit hanya bagi anak-anak yang secara umum memiliki risiko infeksi lebih tinggi.
Sementara itu, keputusan vaksinasi influenza, Covid-19, dan rotavirus kini didasarkan pada prinsip shared clinical decision-making, yang berarti orang tua harus berkonsultasi terlebih dahulu dengan tenaga medis sebelum memutuskan vaksinasi tersebut.
HHS menegaskan bahwa rekomendasi vaksin untuk virus pernapasan RSV tidak berubah. Bayi yang lahir dari ibu yang tidak menerima vaksin RSV tetap disarankan mendapatkan satu dosis imunisasi.
Perubahan ini diumumkan di tengah lonjakan tajam kasus flu di seluruh AS. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) melaporkan sedikitnya sembilan kematian anak akibat flu pada musim ini.
Meski semua asuransi tetap diwajibkan menanggung biaya vaksin tanpa pungutan tambahan, kebijakan baru ini dinilai dapat menimbulkan hambatan baru bagi orang tua karena harus berkonsultasi dengan dokter untuk vaksin yang tidak lagi direkomendasikan bagi anak sehat.
Jadwal vaksin anak versi terbaru AS kini lebih menyerupai kebijakan negara maju lain seperti Denmark, yang tidak merekomendasikan vaksin rotavirus, hepatitis A, meningokokus, flu, maupun cacar air untuk anak-anak.
Perombakan ini terjadi sebulan setelah Presiden Donald Trump memerintahkan evaluasi menyeluruh terhadap jadwal vaksin anak AS. Trump menyebut jadwal lama “tidak masuk akal” dan mendorong agar AS menyesuaikan kebijakannya dengan negara lain. Menteri Kesehatan Robert F. Kennedy Jr. menyambut langkah tersebut dan menyatakan pemerintah sedang menindaklanjutinya.
Trump menyebut jadwal baru sebagai kebijakan yang “lebih masuk akal” karena tetap melindungi anak-anak dari 11 penyakit paling berbahaya. Ia juga menegaskan bahwa orang tua masih bebas memilih memberikan seluruh vaksin kepada anak mereka, dengan jaminan tetap ditanggung asuransi.
Namun, sejumlah pakar kesehatan masyarakat memperingatkan bahwa pengurangan rekomendasi vaksin dapat memicu kembalinya wabah penyakit yang sebenarnya dapat dicegah. Mereka menilai kondisi sistem kesehatan AS berbeda jauh dengan Denmark, terutama dalam hal akses layanan kesehatan anak.
Kebijakan ini juga menuai kritik dari kalangan legislatif dan komunitas medis. Senator Republik Bill Cassidy menyatakan perubahan jadwal vaksin tanpa dasar ilmiah yang transparan berisiko menimbulkan ketakutan dan memperburuk kesehatan publik. Para ahli menilai perubahan mendadak tanpa debat publik justru dapat mengikis kepercayaan masyarakat terhadap sistem vaksinasi nasional.














