JAKARTA, Cobisnis.com – Argus Fertilizer Asia Conference 2026 menjadi ajang bagi Petrokimia Gresik membahas strategi bahan baku. Oleh karena itu, perusahaan memperkuat langkah pengamanan pasokan sulfur di tengah dinamika geopolitik global yang terus berubah.
Perusahaan menyampaikan langkah ini saat konferensi internasional yang digelar di Bali pada akhir Maret 2026. Selain itu, Pupuk Indonesia mendukung upaya tersebut untuk menjaga ketahanan industri nasional.
Menurut Daconi Khotob, sebagian besar perdagangan sulfur dunia berasal dari kawasan Timur Tengah. Namun demikian, Indonesia masih bergantung pada impor sehingga rentan terhadap gangguan pasokan global.
Kebutuhan asam sulfat nasional terus meningkat seiring pertumbuhan industri pupuk dan hilirisasi mineral. Oleh karena itu, kondisi ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu pusat permintaan sulfur global yang terus berkembang.
Petrokimia Gresik memiliki fasilitas produksi asam sulfat dengan kapasitas besar yang terintegrasi. Selain itu, fasilitas ini mendukung proses produksi pupuk dan produk kimia lain secara efisien dan berkelanjutan.
Perusahaan kemudian memperkuat strategi melalui diversifikasi sumber pasokan sulfur dari berbagai negara. Selanjutnya, kontrak jangka panjang dilakukan untuk menjaga stabilitas harga dan memastikan pasokan tetap aman.
Langkah lain mencakup penguatan infrastruktur penyimpanan dan distribusi bahan baku secara menyeluruh. Sementara itu, strategi ini membantu menjaga ketahanan industri pupuk dan kimia dalam menghadapi tekanan global.
Di sisi lain, permintaan sulfur meningkat karena industri baterai kendaraan listrik dan pengolahan mineral. Oleh karena itu, perusahaan fokus menjaga produksi agar kebutuhan pupuk nasional tetap terpenuhi dengan baik.













