JAKARTA, Cobisnis.com – Seorang pria berusia 24 tahun bernama Jaden Read ditangkap pihak berwenang Amerika Serikat setelah diduga mengancam akan menembak Presiden Donald Trump. Ancaman tersebut disampaikan melalui komentar di Facebook menjelang agenda kampanye Trump di Kansas.
Departemen Kehakiman AS menyatakan Read ditangkap di Clearwater, Kansas, pada Sabtu, 17 Oktober 2026. Penangkapan itu dilakukan setelah komentarnya muncul pada unggahan KAKE News yang membahas agenda kunjungan Trump.
Trump dijadwalkan menghadiri acara kampanye untuk Senator Partai Republik Roger Marshall di Park City, Kansas, pada Senin, 19 Oktober 2026. Komentar Read tersebut menjadi perhatian aparat karena memuat ancaman kekerasan terhadap presiden.
Dalam salah satu komentarnya, Read menulis ajakan untuk menembak Trump dan menyebut kondisi keuangannya sebagai salah satu alasan kemarahannya. Ia juga mengaku memiliki amunisi dan menyampaikan ancaman terhadap presiden.
Dalam komentar terpisah, Read disebut menyatakan kesediaannya untuk bertindak seorang diri. Ia juga mengklaim mengetahui lokasi pidato Trump dan telah memetakan atap-atap di sekitar tempat acara.
Pernyataan tersebut ditanggapi serius oleh pihak berwenang untuk mengantisipasi potensi ancaman keamanan. Kasus ini kembali menyoroti perhatian aparat terhadap ancaman terhadap presiden, terutama menjelang kegiatan kampanye yang melibatkan kerumunan publik.
Kekhawatiran keamanan juga berkaitan dengan insiden penembakan pada Juli 2024. Saat itu, Trump terluka di bagian telinga akibat tembakan ketika berpidato dalam kampanye terbuka di Pennsylvania.
Meski Read telah ditangkap, sejumlah detail kasus belum dijelaskan secara terbuka. Informasi yang tersedia belum memastikan apakah aparat menyita senjata milik Read atau apakah ia benar-benar telah menyusun rencana penembakan.
Penangkapan ini menunjukkan bahwa ancaman yang disampaikan melalui media sosial dapat menjadi perhatian serius aparat penegak hukum. Namun, dugaan ancaman tersebut tetap perlu dibedakan dari tindakan penyerangan yang benar-benar terjadi.
Kasus Read menambah perhatian terhadap pengamanan kegiatan politik di Amerika Serikat. Penyelidikan lebih lanjut diperlukan untuk memastikan sejauh mana ancaman tersebut memiliki persiapan nyata dan apakah terdapat bukti pendukung lainnya.













