JAKARTA, Cobisnis.com – Super Bowl bukanlah pertandingan sepak bola Amerika biasa, dan harga tiketnya mencerminkan hal tersebut. Dengan jumlah tiket yang sangat terbatas dan permintaan yang luar biasa tinggi, Super Bowl kini berfungsi layaknya barang mewah, sebuah kondisi yang tampaknya tidak akan berubah dalam waktu dekat.
Super Bowl tahun ini yang digelar di Levi’s Stadium, Santa Clara, California, kembali menegaskan fenomena tersebut. Hingga Jumat sore, harga tiket termurah yang tersedia di platform penjualan ulang TickPick mencapai lebih dari US$3.800, sementara harga rata-rata tiket menembus US$6.200.
Saat ini, Super Bowl telah menjadi simbol eksklusivitas tertinggi. Sebagai perbandingan, dua tiket Super Bowl pertama pada 1967 hanya setara dengan beberapa tangki bensin atau sekitar US$118,20 setelah disesuaikan dengan inflasi. Kini, harga dua tiket Super Bowl bahkan setara dengan menukar sebuah mobil Subaru Outback keluaran 2019, berdasarkan analisis Edmunds.
Kelangkaan Yang Diciptakan Secara Sengaja
Bagi penggemar biasa, menghadiri Super Bowl sering kali menjadi pengalaman sekali seumur hidup, yang lebih menekankan pada suasana dan prestise ketimbang pertandingan itu sendiri.
“Bagi banyak orang, siapa pun yang bermain tidak terlalu penting, karena Super Bowl bukan sekadar fenomena olahraga, melainkan fenomena budaya,” ujar Victor Matheson, ekonom olahraga dari College of the Holy Cross.
Dengan kapasitas stadion yang sudah mencapai batas maksimal, harga tiket menjadi faktor pertama yang melonjak.
“Jumlah kursi yang bisa dijual NFL untuk Super Bowl pada dasarnya tidak berubah, dan itu memberi tekanan besar pada harga,” kata Matheson. “Stadion tidak bisa terus diperbesar.”
Kelangkaan tiket juga disebabkan oleh sistem distribusi yang sangat ketat. NFL memiliki kewenangan penuh untuk menentukan ke mana setiap tiket Super Bowl dialokasikan. Pada Super Bowl XLVIII tahun 2014, sebanyak 99% tiket sudah dialokasikan sebelum dijual ke publik.
Dari jumlah tersebut, 35% dialokasikan untuk dua tim yang berlaga, 5% untuk tim tuan rumah, dan 35% lainnya dibagikan ke 29 tim NFL lainnya. Sisa 25% diberikan kepada pihak-pihak terkait NFL, termasuk perusahaan, jaringan penyiaran, media, sponsor, dan panitia penyelenggara Super Bowl.
Pemain dan staf tim mendapatkan hak beli lebih awal, sementara sebagian tiket juga dibagikan kepada sponsor sebagai bentuk apresiasi. Tiket yang tersisa untuk publik sangat terbatas dan biasanya hanya bisa diakses melalui undian resmi NFL yang sangat kompetitif, bahkan sering kali mensyaratkan kepemilikan tiket musiman.
Tidak jarang, penggemar yang memenangkan undian tersebut kemudian menjual kembali tiketnya dengan harga berkali-kali lipat.
Mengapa Harga Terus Naik
Kelangkaan tiket memaksa banyak penggemar membeli melalui pasar sekunder yang mahal, sehingga penonton Super Bowl cenderung berasal dari kalangan berpenghasilan tinggi.
Laporan dampak ekonomi dari Louisiana State University setelah Super Bowl tahun lalu di New Orleans menunjukkan hampir satu dari empat penonton memiliki pendapatan rumah tangga di atas US$500.000 per tahun. Mayoritas lainnya berada di kisaran US$200.000 hingga US$500.000.
Sebagai perbandingan, kurang dari 10% penonton melaporkan pendapatan rumah tangga setara atau di bawah median pendapatan Amerika Serikat tahun 2024, yakni US$83.730.
Meski harga tiket terkadang bisa turun menjelang kick-off, menurut SeatGeek, potongan harga tersebut biasanya langsung diserbu pembeli.
Kenaikan harga tiket menunjukkan bahwa pembeli kaya bersedia membayar lebih demi menjamin tempat duduk di stadion. Hal ini menandakan harga tiket Super Bowl kemungkinan belum mencapai batas tertingginya.
“Dengan jumlah kursi yang terbatas dan profil pendapatan penonton yang tinggi, harga tiket kemungkinan besar akan terus melambung,” ujar Matheson.













