JAKARTA, Cobisnis.com – PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI) mencatat kinerja impresif sepanjang 2025. Hampir seluruh indikator utama perseroan tumbuh dua digit, melampaui rata-rata industri perbankan nasional.
Kinerja tersebut ditopang oleh fungsi intermediasi yang berjalan optimal, didukung pendanaan yang kuat serta penyaluran pembiayaan yang sehat dan tepat sasaran. Selain itu, pembiayaan terhadap program-program yang sejalan dengan Astacita Pemerintah turut memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan perseroan.
Direktur Finance & Strategy BSI Ade Cahyo Nugroho menyampaikan capaian tersebut dalam ajang Sharia Economic Forum di Jakarta. Ia menjelaskan bahwa salah satu pendorong utama pertumbuhan adalah optimalisasi dual license yang dimiliki BSI, yakni sebagai bank syariah dengan ekosistem Islami serta sebagai bullion bank.
“Terbukti dalam kurun waktu 8 bulan terakhir sejak BSI mendapat license Bullion Bank, kenaikan bisnis emas melesat di atas 100%,” ujar Cahyo.
Menurutnya, hasil riset internal menunjukkan bahwa tantangan utama bank syariah saat ini adalah memperkuat kehadiran fisik di ruang publik dan menyediakan produk yang mudah diakses secara luas. Untuk menjawab tantangan tersebut, dalam dua tahun terakhir BSI menjalankan strategi transformasi digital, termasuk menghadirkan 5.000 ATM/CRM di berbagai lokasi publik serta memperluas penggunaan EDC dan QR melalui kerja sama dengan merchant.
Selain penguatan digital, BSI juga memperluas jaringan cabang di lokasi-lokasi strategis guna meningkatkan awareness dan menjangkau segmen ritel yang memiliki preferensi terhadap produk keuangan berbasis syariah.
“Dulu jarang kita melihat keterwakilan bank syariah di public place. Jika ada ATM ditempatkan di cabang. Sekarang mesin ATM BSI berlokasi di tempat-tempat umum atau pusat keramaian,” katanya.
Strategi tersebut dinilai efektif. Sepanjang 2025, jumlah nasabah BSI bertambah sekitar 2 juta orang. Di sisi lain, bisnis emas melalui layanan bullion mencatatkan kelolaan sekitar 2 ton emas.
BSI juga mendorong inklusi melalui produk emas yang dinilai universal dan mudah diterima masyarakat. Melalui platform digital BYOND by BSI, nasabah dapat membeli emas mulai dari Rp50 ribuan atau setara sekitar 0,02 gram.
“Inilah yang akan terus kami dorong sebagai literasi dan entry gate bahwa produk syariah itu kompetitif, sesuai kebutuhan dan mudah diakses,” jelas Cahyo.
Tak hanya menyediakan layanan finansial, BSI juga menghadirkan fitur sosial dan spiritual, termasuk fasilitas donasi yang terintegrasi dengan LAZNAS. Konsep ini diharapkan menjadi solusi menyeluruh bagi nasabah, baik dalam aspek keuangan maupun kontribusi sosial.
Cahyo menambahkan, meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap gaya hidup halal dan pengelolaan keuangan berbasis syariah menjadi faktor penting pertumbuhan bank syariah dalam satu dekade terakhir. Dukungan regulasi serta kebijakan pemerintah terhadap ekonomi syariah turut memperluas pangsa pasar industri ini.
“Kami optimis tahun ini menargetkan penambahan 2 juta customer,” ujarnya.













