• © Copyright 2025 Cobinis.com – All Right Reserved
Wednesday, August 26, 2026
Cobisnis
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Ekonomi Bisnis
  • Nasional
  • Lifestyle
  • Entertaiment
  • Humaniora
  • Sport
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Foto
  • Beranda
  • Ekonomi Bisnis
  • Nasional
  • Lifestyle
  • Entertaiment
  • Humaniora
  • Sport
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Foto
No Result
View All Result
Cobisnis
No Result
View All Result
Home Teknologi

Industri AI China Tampak Tak Terbendung, Tapi Mampukah Salip Amerika?

Zahra Zahwa by Zahra Zahwa
February 12, 2026
in Teknologi
0
Industri AI China Tampak Tak Terbendung, Tapi Mampukah Salip Amerika?

JAKARTA, Cobisnis.com – Industri kecerdasan buatan (AI) China terlihat melaju kencang dalam persaingan global melawan Amerika Serikat. Namun di balik lonjakan model open-source, pendanaan besar, dan ekspansi aplikasi industri, sejumlah pakar dalam negeri justru menilai peluang China menyalip AS dalam tiga hingga lima tahun ke depan masih kecil.

Dalam pertemuan penting para pemain AI terbesar China di Beijing pada Januari lalu, Justin Lin, pimpinan teknis model AI Qwen milik Alibaba, menyebut peluang perusahaan China melampaui pemimpin AI AS berada di bawah 20 persen. “Dan 20 persen itu sudah sangat optimistis,” ujarnya.

Pernyataan tersebut kontras dengan euforia sepanjang tahun terakhir, terutama setelah startup DeepSeek mengejutkan dunia dengan model AI berperforma tinggi yang diklaim dibangun dengan biaya jauh lebih rendah dibandingkan model Amerika. Model-model AI China bahkan sempat memimpin unduhan global untuk kategori open-source.

Namun, sejumlah pengembang memperingatkan adanya kesenjangan performa yang justru melebar. Tang Jie, pendiri startup AI Z.ai (Zhipu), mengatakan jarak antara model China dan AS “mungkin semakin besar,” terutama pada pengembangan model frontier paling mutakhir.

Strategi open-source sebagai senjata utama

Berbeda dengan perusahaan AS yang cenderung mengembangkan model tertutup seperti GPT (OpenAI), Gemini (Google), dan Claude (Anthropic), banyak perusahaan China mengadopsi strategi open-source atau model terbuka.

Strategi ini dinilai mampu menekan biaya, mempercepat adopsi, dan memperluas ekosistem pengembang. Alibaba misalnya telah merilis lebih dari 400 model Qwen terbuka dengan total lebih dari satu miliar unduhan. Model Qwen bahkan sempat melampaui Llama milik Meta dalam jumlah unduhan di platform Hugging Face.

Lonjakan model terbuka China juga mendorong pangsa penggunaan globalnya melonjak drastis. Namun demikian, model tertutup AS masih mendominasi sekitar 70 persen total unduhan dan tetap unggul dalam berbagai tolok ukur performa.

Selain faktor strategi, keterbatasan akses terhadap chip canggih akibat pembatasan ekspor AS menjadi hambatan utama. Perusahaan China tidak bisa memperoleh chip terbaru Nvidia seperti seri Blackwell dan Rubin. Meski AS mengizinkan ekspor chip H200 yang lebih lama, impor tersebut tetap memerlukan persetujuan Beijing.

Keterbatasan modal juga menjadi tantangan. Berbeda dengan startup AS yang bisa menggalang pendanaan ventura dalam beberapa putaran besar, perusahaan AI China memiliki basis investor yang lebih sempit dan tekanan untuk segera menunjukkan profitabilitas. Hal ini mendorong sejumlah startup seperti Z.ai dan MiniMax melantai di bursa Hong Kong lebih cepat dari pesaing AS.

Fokus pada aplikasi industri

Meski demikian, China menunjukkan keunggulan dalam penerapan AI di sektor riil. Teknologi AI kini terintegrasi luas di bidang manufaktur, e-commerce, robotika, dan logistik. Pemerintah China juga mendorong industrialisasi AI sebagai bagian dari strategi nasional untuk meningkatkan sektor manufaktur.

Dalam pidato Tahun Baru, Presiden Xi Jinping memuji model AI domestik yang “berlomba di garis depan” serta terobosan chip buatan dalam negeri sebagai bagian dari dorongan swasembada teknologi.

Sejumlah analis menilai China mungkin belum memimpin dalam model paling canggih, tetapi unggul dalam kecepatan implementasi dan skala adopsi. Mantan peneliti OpenAI yang kini menjabat kepala ilmuwan AI Tencent, Yao Shunyu, mengatakan China memiliki rekam jejak cepat mengejar ketertinggalan teknologi Barat, bahkan dalam beberapa sektor seperti kendaraan listrik dan manufaktur.

Namun, ia menilai tantangan terbesar China bukan sekadar teknologi, melainkan budaya inovasi. “Bisakah kita memimpin penciptaan paradigma baru? Ini mungkin masalah kunci yang masih harus diselesaikan China,” ujarnya.

Dengan strategi open-source yang agresif, dukungan negara, serta percepatan adopsi industri, China terus mempersempit jarak. Tetapi selama kendala chip, modal, dan inovasi mendasar belum teratasi, dominasi Amerika Serikat dalam AI global masih sulit digoyahkan dalam waktu dekat.

Tags: AIAmerika SerikatChinacobisnis.com

Related Posts

Gustavo Almeida tinggalkan Persija

Gustavo Almeida Resmi Tinggalkan Persija

by Desti Dwi Natasya
August 26, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com - Penyerang asal Brasil, Gustavo Almeida, resmi mengakhiri perjalanan bersama Persija Jakarta setelah klub mengumumkan berakhirnya kerja sama...

JFX Siap Dukung Pemerintah Wujudkan BMKS

JFX Siap Dukung Pemerintah Wujudkan BMKS

by Iwan Supriyatna
August 26, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com – Jakarta Futures Exchange (JFX) menyambut rencana pemerintah membangun Bursa Mineral dan Komoditas Strategis (BMKS) sebagai langkah penting...

Jelang Demo DPR, Polisi Perketat Akses Tol Merak-Tangerang

Jelang Demo DPR, Polisi Perketat Akses Tol Merak-Tangerang

by Hidayat Taufik
August 26, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com — Polisi meningkatkan pengamanan di sejumlah akses yang mengarah ke Jakarta menjelang aksi demonstrasi di depan Gedung DPR...

Aktor Revaldo Fifaldi

Revaldo Beli Sabu Rp650 Ribu Sebelum Ditangkap

by Desti Dwi Natasya
August 26, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com - Aktor Revaldo Fifaldi diketahui membeli setengah gram sabu seharga Rp650.000 sebelum diamankan polisi terkait dugaan penyalahgunaan narkotika....

Rekening Botok Pati Segera Dibuka, DPR Desak Bank Mandiri Bertindak

Rekening Botok Pati Segera Dibuka, DPR Desak Bank Mandiri Bertindak

by Hidayat Taufik
August 26, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com - Komisi III DPR RI meminta Bank Mandiri segera mengaktifkan kembali rekening milik aktivis asal Pati, Supriyono alias...

Load More
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Sinopsis The Ambush dan Jadwal Tayang Bioskop Trans TV 25 Agustus 2026

Sinopsis The Ambush dan Jadwal Tayang Bioskop Trans TV 25 Agustus 2026

August 25, 2026
Film Niu Lai Sukses Besar, Sutradara Siapkan Cerita Lanjutan

Film Niu Lai Sukses Besar, Sutradara Siapkan Cerita Lanjutan

August 24, 2026
Kabut Asap Indonesia Masuk Malaysia 29 Wilayah Catat Udara Tak Sehat

Kabut Asap Indonesia Masuk Malaysia 29 Wilayah Catat Udara Tak Sehat

August 25, 2026
Trump Dorong Biaya Visa H-1B Jadi Rp1,8 Miliar untuk Pekerja Asing

Trump Dorong Biaya Visa H-1B Jadi Rp1,8 Miliar untuk Pekerja Asing

August 25, 2026
Gustavo Almeida tinggalkan Persija

Gustavo Almeida Resmi Tinggalkan Persija

August 26, 2026
JFX Siap Dukung Pemerintah Wujudkan BMKS

JFX Siap Dukung Pemerintah Wujudkan BMKS

August 26, 2026
Jelang Demo DPR, Polisi Perketat Akses Tol Merak-Tangerang

Jelang Demo DPR, Polisi Perketat Akses Tol Merak-Tangerang

August 26, 2026
Aktor Revaldo Fifaldi

Revaldo Beli Sabu Rp650 Ribu Sebelum Ditangkap

August 26, 2026
">
  • Redaksi
  • Profil
  • Media Kit
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Cyber
  • Kontak

© Copyright 2025 Cobinis.com - All Right Reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Ekonomi & Bisnis
  • Nasional
  • Industri
  • Lifestyle
  • Humaniora
  • Kesehatan & Olahraga
  • Startup Center
  • Foto
  • Youtube

© Copyright 2025 Cobinis.com - All Right Reserved