JAKARTA, Cobisnis.com – Coca-Cola dan Nestlé kembali menjadi sorotan publik global seiring meningkatnya kampanye boikot di berbagai negara. Isu yang mengemuka bukan hanya soal geopolitik, tetapi juga rangkaian persoalan lingkungan, kesehatan, dan etika bisnis yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Coca-Cola secara konsisten dinobatkan sebagai pencemar plastik nomor satu dunia dalam sejumlah audit merek global. Botol plastik sekali pakai perusahaan ini ditemukan paling banyak di pantai, sungai, dan laut di berbagai wilayah.
Kritik utama terhadap Coca-Cola tertuju pada ketimpangan antara produksi plastik dan upaya daur ulang. Program keberlanjutan perusahaan dinilai belum sebanding dengan volume kemasan plastik yang dilepas ke lingkungan.
Selain isu plastik, Coca-Cola juga kerap dikaitkan dengan konflik sumber daya air. Di beberapa negara seperti India, Meksiko, dan kawasan Afrika, perusahaan ini dituduh mengambil air tanah secara berlebihan.
Aktivitas tersebut dinilai mengganggu pasokan air bagi masyarakat lokal dan petani. Sejumlah kasus konflik air yang melibatkan Coca-Cola telah muncul sejak awal 2000-an dan masih menjadi rujukan kritik hingga kini.
Di bidang kesehatan, Coca-Cola menghadapi tekanan terkait kandungan gula tinggi dalam produknya. Minuman manis disebut berkontribusi terhadap meningkatnya risiko obesitas dan diabetes di banyak negara.
Perusahaan ini juga dituding menargetkan iklan ke anak-anak serta aktif melawan kebijakan pajak gula yang diterapkan sejumlah pemerintah sebagai upaya menekan konsumsi gula berlebih.
Sementara itu, Nestlé menghadapi spektrum kritik yang lebih luas. Salah satu isu paling sensitif adalah pengelolaan air minum kemasan, yang dipandang sebagai komodifikasi sumber daya dasar.
Pernyataan lama pimpinan Nestlé yang menyebut air sebagai komoditas ekonomi, bukan hak asasi manusia, terus membayangi reputasi perusahaan. Di beberapa wilayah krisis air, Nestlé dituduh mengambil air untuk dijual kembali dengan harga tinggi.
Nestlé juga berulang kali dikaitkan dengan isu pekerja anak dalam rantai pasok kakao di Afrika Barat. Sejumlah laporan investigatif dan gugatan hukum menyoroti praktik kerja berbahaya yang melibatkan anak-anak.
Kontroversi lain yang melekat pada Nestlé adalah pemasaran susu formula bayi di negara berkembang. Promosi agresif dinilai berkontribusi pada berkurangnya praktik menyusui, dengan dampak kesehatan serius bagi bayi.
Selain itu, banyak produk Nestlé masuk kategori makanan ultra-proses. Kandungan gula, garam, dan lemak yang tinggi kerap dipersoalkan, terutama ketika dibungkus dengan citra produk sehat.
Meski kedua perusahaan telah meluncurkan berbagai inisiatif tanggung jawab sosial dan keberlanjutan, kritik publik menunjukkan bahwa persoalan struktural dalam model bisnis global masih menjadi tantangan besar.














