JAKARTA, Cobisnis.com – Di tengah dinamika ekonomi global, UMKM terbukti menjadi tulang punggung ekonomi nasional dengan kontribusi lebih dari 9746 terhadap struktur usaha di Indonesia serta peran vital dalam penciptaan lapangan kerja dan ketahanan ekonomi.
Hadir pada acara puncak Final DSC Season 16, Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Republik Indonesia, Maman Abdurrahman, menegaskan pentingnya kolaborasi berkelanjutan dalam membangun UMKM Indonesia yang tangguh dan berdaya saing.
Menurutnya, konsistensi pendampingan dan penguatan ekosistem menjadi faktor krusial agar UMKM tidak hanya bertahan, tetapi mampu naik kelas dan berkontribusi lebih besar bagi perekonomian nasional.
“Selama 16 tahun, Wismilak Foundation secara konsisten memberikan pendampingan bagi UMKM Indonesia. Ini bukan komitmen jangka pendek, melainkan upaya berkelanjutan untuk membangun pondasi ekonomi nasional yang inklusif dan tangguh,” ujar Menteri Maman.
Pernyataan tersebut sejalan dengan semangat yang diusung DSC Season 16, yang kembali menegaskan perannya sebagai penggerak ekosistem wirausaha kolaboratif Indonesia. Tidak hanya fokus pada pengembangan bisnisnya, DSC fokus pula pada penguatan karakter wirausahawan muda Indonesia. Ketua Dewan Komisioner DSC, Surjanto Yasaputera,
menekankan bahwa DSC tidak menilai performa bisnis semata, tetapi juga kesiapan wirausaha untuk bertumbuh secara berkelanjutan.
“DSC mendorong wirausaha yang tidak hanya kuat secara model bisnis, tetapi juga matang secara karakter. Inilah mengapa kami menilai melalui pendekatan 3P: Paham, Piawai, dan Persona, sebagai pondasi wirausaha masa depan,” jelas Surjanto.
Salah satu inovasi program di DSC Season 16 adalah Founder’s Arena, sebuah tahapan yang menguji ketangguhan para challenger sebagai founder. Pada fase ini, peserta diuji keputusan, beradaptasi di bawah tekanan, serta dalam kemampuan mengambil membangun kolaborasi yang sinergis.
Inilah nilai-nilai yang menjadi pondasi kepemimpinan wirausaha jangka panjang. Di acara puncak Final DSC Season 16, Jonathan Holiyanto dari Lean Lab berhasil meraih penghargaan sebagai Best of The Best dan menerima hibah modal usaha sebesar Rp 320 juta beserta pendampingan intensif.
Lean Lab dikenal melalui inovasi selai bubuk sehat rendah lemak dan tinggi protein, yang menawarkan alternatif praktis dan relevan bagi gaya hidup modern. Lean Lab juga tercatat sebagai finalis Food Startup Indonesia (FSI), salah satu mitra strategis DSC Season 16.
“Jonathan menunjukkan keseimbangan antara pemahaman bisnis yang kuat, eksekusi yang piawai, serta persona kepemimpinan yang adaptif dan kolaboratif. Inilah standar wirausaha masa depan yang ingin kami dorong melalui DSC,” tambah Surjanto.
DSC Season 16 kembali memberikan total hibah usaha senilai total Rp 2,5 milyar dengan disertai serangkaian pendampingan Intensif dan ekosistem wirausaha Diplomat Entrepreneur Network (DEN). Selain Lean Lab, ada beberapa brand lainnya yang berhasil memboyong hibah modal usaha.
Dari ranah F&B, ada Bela Putra Perdana (Rumah Tempe Indonesia) dan Ghea Anisa (Roti Kembang). Kemudian dari ranah teknologi, ada Sidhi Umbara (Revelware Technology) dan Kevin Ananta Marga (Vityuu Sweet Block Spray). Serta, dari ranah kriya & fesyen ada Dhea Febrina (Klab Serru!l).
Selain itu, dua penghargaan khusus juga diberikan, yaitu The Most Innovative Business yang dianugerahkan kepada Ganari yang menawarkan solusi penyerapan karbon berbasis mikroalga, dan The Most Creative Business kepada Sigma Project, brand sepatu dengan misi sosial untuk anak-anak underprivileged di Papua.
Komitmen DSC Hadirkan Ekosistem Wirausaha Indonesia yang Sinergis dan Kolaboratif
Memasuki tahun ke-16, DSC memperluas kolaborasi pentahelix yang berdampak, antara lain dengan pelaku usaha, pemangku kebijakan, institusi pendidikan, hingga komunitas budaya.
Wakil Sekretaris Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), Lucia Karina, menilai langkah ini krusial agar UMKM Indonesia mampu menjawab tantangan global. Menurutnya, UMKM tidak lagi dapat dipandang sebatas pemain lokal, melainkan berpotensi menjadi bagian dari rantai pasok nasional hingga internasional.
Sejalan dengan itu, Edric Chandra, Program Initiator DSC, menjelaskan bahwa sepanjang 2025, DSC memperluas keterlibatan mitra strategis dengan berbagai pihak, mulai dari APINDO dan Food Startup Indonesia di mana DSC memperluas akses dan jejaring bagi wirausaha muda nasional.
DSC Season 16 juga melibatkan Mangkunegaran dan Batik Iwan Tirta untuk menghadirkan pendekatan kewirausahaan yang berakar pada nilai budaya, sekaligus membuka peluang bisnis yang relevan dengan konteks masa kini.
Di sisi akademik, DSC menggandeng Universitas Katolik Parahyangan untuk mendampingi Top 45 challengers dalam penyusunan Sustainability Company Profile, sebagai upaya mendorong praktik usaha yang akuntabel dan berkelanjutan berdasarkan ESG sejak tahap awal pertumbuhan bisnis.
“Kolaborasi lintas sektor adalah kunci membangun ekosistem wirausaha yang berkelanjutan. Inilah wujud nyata semangat Wujud Sinergi Kolaborasi, ketika nilai, pengetahuan, dan jejaring bertemu untuk melahirkan inovasi yang berakar pada identitas Indonesia dan relevan untuk masa depan,” ujar Edric.
DSC Season 16 bukan hanya menjadi bukti konsistensi bagi Wismilak Foundation dalam mendukung kewirausahaan Indonesia, tetapi juga menjadi ruang tumbuh bagi lahirnya wirausaha berkualitas dari tahun ke tahun.
Dengan ekosistem yang terus diperkaya kolaborasi lintas sektor, DSC diharapkan menjadi fondasi bagi masa depan kewirausahaan Indonesia yang lebih berdaya saing, berkelanjutan, dan berakar pada nilai-nilai luhur kebangsaaan.














