• © Copyright 2025 Cobinis.com – All Right Reserved
Friday, January 30, 2026
Cobisnis
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Ekonomi Bisnis
  • Nasional
  • Lifestyle
  • Entertaiment
  • Humaniora
  • Sport
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Foto
  • Beranda
  • Ekonomi Bisnis
  • Nasional
  • Lifestyle
  • Entertaiment
  • Humaniora
  • Sport
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Foto
No Result
View All Result
Cobisnis
No Result
View All Result
Home Teknologi

Ilmuwan Iklim Tak Sengaja Yang Mengungkap Kekuatan Tersembunyi Pemanasan Global

Zahra Zahwa by Zahra Zahwa
January 30, 2026
in Teknologi
0
Ilmuwan Iklim Tak Sengaja Yang Mengungkap Kekuatan Tersembunyi Pemanasan Global

JAKARTA, Cobisnis.com – Ilmuwan Veerabhadran Ramanathan tumbuh besar di India selatan pada 1960-an dengan impian khas Amerika: memiliki sebuah Chevrolet Impala, mobil muscle car yang ia kenal dari ayahnya yang bekerja sebagai penjual ban. Ia akhirnya berhasil pindah ke Amerika Serikat di usia 20-an, namun impian memiliki mobil boros bensin itu tak pernah terwujud, karena pengetahuannya tentang pemanasan global justru berkembang lebih cepat daripada penghasilannya.

Pada 1970-an, Ramanathan yang kala itu merupakan peneliti pascadoktoral muda di bidang ilmu planet, bekerja siang hari sebagai peneliti tamu di NASA Langley Research Center, Virginia. Di malam hari, ia diam-diam mengerjakan proyek pribadi yang bahkan tidak diketahui atasannya. Penelitian sunyi itulah yang kelak mengubah cara dunia memandang pemanasan global.

Ramanathan menemukan bahwa chlorofluorocarbons (CFC), bahan kimia yang saat itu banyak digunakan dalam kulkas, AC, dan kaleng semprot, memiliki efek gas rumah kaca yang sangat kuat. Ia pernah bersentuhan dengan CFC saat bekerja di perusahaan pendingin. Seperti karbon dioksida, CFC menjebak panas di atmosfer, namun hasil perhitungannya menunjukkan dampak yang jauh lebih besar: satu molekul CFC bisa memerangkap panas setara hingga 10.000 molekul CO₂.

Selama tiga bulan, ia mengulang perhitungannya berulang kali untuk memastikan tidak ada kesalahan. Hasilnya tetap sama.

“Saya hanya seorang postdoc imigran dari India. Saya tidak tahu apakah harus melaporkan ini ke NASA atau tidak. Saya langsung mengirimkan makalahnya,” kenang Ramanathan.

Penelitiannya diterbitkan di jurnal Science dan menjadi berita utama The New York Times pada 1975. Temuan ini awalnya disambut dengan skeptisisme, bahkan oleh Ramanathan sendiri, karena ia memulai penelitian itu murni karena rasa ingin tahu, di masa ketika perubahan iklim belum menjadi isu global utama.

Pada akhirnya, Ramanathan membuktikan bahwa gas rumah kaca selain CO₂ merupakan kontributor utama pemanasan global. Pengetahuan ini menjadi fondasi kebijakan mitigasi iklim pertama yang sukses di dunia.

Atas kontribusinya, Royal Swedish Academy of Sciences menganugerahkan Crafoord Prize kepada Ramanathan, profesor riset terkemuka di Scripps Institution of Oceanography, UC San Diego. Penghargaan senilai sekitar 8 juta krona Swedia (sekitar Rp14 miliar) ini kerap dianggap sebagai pertanda awal menuju Nobel.

“Dia telah memperluas pemahaman kita tentang bagaimana manusia memengaruhi komposisi atmosfer, iklim, dan kualitas udara, serta bagaimana ketiganya saling terkait,” ujar Ilona Riipinen, profesor ilmu atmosfer Universitas Stockholm.

Ramanathan menyebut terobosan awal kariernya sebagai rangkaian “kecelakaan yang beruntung”. Setelah belajar teknik di Bengaluru, ia sempat bekerja di perusahaan kulkas, lalu melanjutkan studi doktoral di SUNY Stony Brook. Disertasinya justru membahas efek rumah kaca di atmosfer Venus. Saat bekerja di NASA, ia juga terinspirasi oleh riset Mario Molina dan Frank Rowland tentang dampak CFC terhadap lapisan ozon.

Pada 1985, Ramanathan ikut menulis makalah yang menyimpulkan bahwa gas jejak seperti metana dan dinitrogen oksida sama pentingnya dengan CO₂ dalam pemanasan global jangka panjang. Kesimpulan ini mengguncang komunitas ilmiah.

“Para ilmuwan tiba-tiba sadar bahwa pemanasan global akan terjadi dua kali lebih cepat dari yang diperkirakan,” kata sejarawan sains Spencer Weart.

Ramanathan juga berperan dalam mendorong pelarangan CFC melalui Protokol Montreal 1987, yang menurut studi Nature tahun 2021 telah mencegah pemanasan tambahan hingga 1 derajat Celsius.

Sepanjang kariernya, ia menggunakan satelit, balon, drone, dan kapal untuk mengamati atmosfer secara langsung. Ia membuktikan bahwa awan memiliki efek mendinginkan bumi, menunjukkan peran uap air dalam memperkuat pemanasan CO₂, serta mengungkap fenomena atmospheric brown cloud lapisan polusi udara tebal di Asia Selatan yang sempat “menutupi” sebagian dampak pemanasan global.

Sejak 2012, Ramanathan juga menjadi anggota Dewan Akademi Kepausan Ilmu Pengetahuan, memberi masukan kebijakan iklim kepada tiga paus berturut-turut. Pengalaman ini membuatnya semakin menekankan sisi etika krisis iklim, yang menurutnya akan paling berat dirasakan oleh masyarakat miskin.

Kini di usia 81 tahun, Ramanathan mengendarai Tesla Model Y dan menggunakan energi surya di rumahnya di California. Namun ia menegaskan bahwa solusi krisis iklim tidak cukup hanya dari tindakan individu.

“Saya selalu bilang ke generasi muda: berdirilah, pilih pemimpin yang tepat, dan sebarkan ilmu berbasis data bukan sains sampah,” tegasnya.

Download WordPress Themes Free
Download Best WordPress Themes Free Download
Download Premium WordPress Themes Free
Download Nulled WordPress Themes
udemy paid course free download
download huawei firmware
Download Nulled WordPress Themes
download udemy paid course for free
Tags: cobisnis.comIlmuwanIklimPemanasanGlobal

Related Posts

Perjalanan Karier Iman Rachman hingga Mundur dari Jabatan Direktur Utama BEI

Mundur dari Kursi Dirut BEI, Harta Kekayaan Iman Rachman Jadi Sorotan

by Desti Dwi Natasya
January 30, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com – Pengunduran diri Iman Rachman dari jabatan Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) ikut menarik perhatian publik terhadap...

Uni Eropa Tetapkan Garda Revolusi Iran sebagai Organisasi Teroris

Uni Eropa Tetapkan Garda Revolusi Iran sebagai Organisasi Teroris

by Desti Dwi Natasya
January 30, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com – Uni Eropa resmi memasukkan Garda Revolusi Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) ke dalam daftar organisasi...

Trump Kembali Dorong Penguasaan Greenland, Denmark Tegaskan Penolakan

Trump Beri Ultimatum ke Iran, Isyaratkan Opsi Serangan Militer Lebih Besar

by Desti Dwi Natasya
January 30, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengeluarkan pernyataan bernada keras terhadap Iran seiring meningkatnya ketegangan hubungan kedua...

Kasus Dugaan Korupsi Kuota Haji, KPK Panggil Gus Yaqut untuk Diperiksa

KJRI Johor Bahru Pulangkan 133 PMI dari Malaysia Lewat Skema Deportasi

by Desti Dwi Natasya
January 30, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com – Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Johor Bahru memfasilitasi pemulangan 133 pekerja migran Indonesia (PMI) atau warga negara...

Kasus Dugaan Korupsi Kuota Haji, KPK Panggil Gus Yaqut untuk Diperiksa

Kasus Dugaan Korupsi Kuota Haji, KPK Panggil Gus Yaqut untuk Diperiksa

by Desti Dwi Natasya
January 30, 2026
0

JAKARTA, Cobisnis.com – Komisi Pemberantasan Korupsi menjadwalkan pemeriksaan terhadap mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas pada Jumat (30/1/2026). Pemanggilan ini...

Load More
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Juragan Kucek

Juragan Kucek Tutup Gerai Mendadak, Mitra dan Konsumen Merugi

January 20, 2026
Shin Eun Soo dan Yoo Seon Ho Resmi Berpacaran, Hubungan Terjalin Sejak Akhir 2025

Perkiraan Awal Puasa Ramadhan 2026 Menurut Pemerintah, Muhammadiyah, dan NU

January 30, 2026
RLCO Masuk Suspend di Tengah Gejolak Pasar Saham

RLCO Masuk Suspend di Tengah Gejolak Pasar Saham

January 28, 2026
AXA Mandiri Luncurkan Asuransi Dwiguna Berbasis Dolar AS dan Campaign Melangkah Pasti

AXA Mandiri Luncurkan Asuransi Dwiguna Berbasis Dolar AS dan Campaign Melangkah Pasti

January 29, 2026
Perjalanan Karier Iman Rachman hingga Mundur dari Jabatan Direktur Utama BEI

Mundur dari Kursi Dirut BEI, Harta Kekayaan Iman Rachman Jadi Sorotan

January 30, 2026
Uni Eropa Tetapkan Garda Revolusi Iran sebagai Organisasi Teroris

Uni Eropa Tetapkan Garda Revolusi Iran sebagai Organisasi Teroris

January 30, 2026
Trump Kembali Dorong Penguasaan Greenland, Denmark Tegaskan Penolakan

Trump Beri Ultimatum ke Iran, Isyaratkan Opsi Serangan Militer Lebih Besar

January 30, 2026
Kasus Dugaan Korupsi Kuota Haji, KPK Panggil Gus Yaqut untuk Diperiksa

KJRI Johor Bahru Pulangkan 133 PMI dari Malaysia Lewat Skema Deportasi

January 30, 2026
">
  • Redaksi
  • Profil
  • Media Kit
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Cyber
  • Kontak

© Copyright 2025 Cobinis.com - All Right Reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Ekonomi & Bisnis
  • Nasional
  • Industri
  • Lifestyle
  • Humaniora
  • Kesehatan & Olahraga
  • Startup Center
  • Foto
  • Youtube

© Copyright 2025 Cobinis.com - All Right Reserved