JAKARTA, Cobisnis.com – Bank investasi global Goldman Sachs resmi menurunkan peringkat saham Indonesia setelah muncul peringatan risiko investabilitas dari penyedia indeks global MSCI.
Dalam laporan terbarunya, Goldman Sachs menurunkan rekomendasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi underweight, menandakan pandangan lebih hati-hati terhadap pasar saham Tanah Air.
Analis Goldman menilai keputusan MSCI akan menjadi sentimen negatif yang membebani pergerakan pasar, terutama karena berpotensi memicu aksi jual lanjutan dari investor pasif.
Goldman memperkirakan arus keluar dana pasif dari pasar saham Indonesia bisa mencapai US$ 2,2 miliar hingga US$ 7,8 miliar setelah penilaian MSCI tersebut.
Sehari sebelumnya, MSCI membekukan pembaruan sejumlah saham Indonesia dalam produk indeksnya guna meredam apa yang disebut sebagai “investability risk”.
MSCI juga memperingatkan Indonesia berisiko diturunkan statusnya menjadi pasar frontier apabila persoalan tersebut tidak segera ditangani.
Sentimen negatif ini langsung tercermin di pasar. IHSG ambruk 7,35 persen pada perdagangan Rabu (28/1/2026), menjadi penurunan harian terdalam sejak April 2025.
Tekanan jual asing sejatinya sudah berlangsung sejak tahun lalu. Sepanjang 2025, investor asing mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp 13,96 triliun.
Angka tersebut menjadi arus keluar terbesar dari pasar saham Indonesia sejak tahun 2020, mencerminkan melemahnya kepercayaan investor global.
Aksi jual itu masih berlanjut hingga Januari 2026, menunjukkan tekanan terhadap IHSG belum sepenuhnya mereda.
Di tengah kondisi tersebut, pemerintah mulai merespons. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan akan segera menggelar pertemuan untuk membahas isu MSCI dan dampaknya terhadap pasar keuangan nasional.
Langkah tersebut dinilai krusial untuk menjaga kredibilitas pasar modal Indonesia di mata investor global dan mencegah tekanan lanjutan terhadap IHSG.














