JAKARTA, Cobisnis.com – Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte menegaskan bahwa Eropa hingga kini belum mampu mempertahankan diri tanpa dukungan Amerika Serikat. Pernyataan itu disampaikannya di tengah meningkatnya ketegangan hubungan trans-Atlantik dan isu keamanan kawasan Arktik.
Berbicara di hadapan anggota Parlemen Eropa di Brussel, Rutte menyebut ketergantungan Eropa terhadap kekuatan militer AS masih sangat besar. Ia menilai gagasan Eropa berdiri sendiri di bidang pertahanan belum realistis dalam waktu dekat.
Menurut Rutte, ancaman keamanan global saat ini semakin kompleks, mulai dari konflik geopolitik hingga persaingan kekuatan besar di kawasan strategis. Kondisi tersebut membuat solidaritas NATO tetap menjadi kunci stabilitas keamanan Eropa.
Pernyataan tegas itu muncul di tengah polemik terkait ambisi Presiden Amerika Serikat Donald Trump atas Greenland. Isu tersebut memicu kekhawatiran di kalangan pemimpin Eropa soal arah hubungan strategis dengan Washington.
Rutte secara gamblang menyatakan bahwa tanpa AS, kemampuan pertahanan Eropa hanya sebatas angan-angan. Ia menekankan bahwa NATO dibangun atas prinsip saling ketergantungan, bukan dominasi satu pihak.
“Jika ada yang berpikir Eropa bisa mempertahankan diri tanpa Amerika Serikat, silakan terus bermimpi,” ujar Rutte dalam pidatonya, seraya menambahkan bahwa keamanan trans-Atlantik bersifat saling melengkapi.
Ia juga menyoroti meningkatnya ancaman di kawasan Arktik yang melibatkan kepentingan Rusia dan China. Menurutnya, wilayah tersebut memerlukan pendekatan kolektif, termasuk keterlibatan aktif Amerika Serikat.
Dalam konteks Greenland, Rutte menyebut terdapat dua jalur pembicaraan yang sedang berjalan. Jalur pertama menyangkut diskusi internal NATO soal penguatan pertahanan Arktik secara menyeluruh.
Sementara jalur kedua melibatkan dialog antara Amerika Serikat, Denmark, dan Greenland yang saat ini masih berlangsung. Namun Rutte menegaskan dirinya tidak memiliki mandat untuk membahas kedaulatan wilayah tersebut.
Di sisi lain, Rutte mengakui Eropa perlu meningkatkan belanja pertahanan secara signifikan jika ingin mengurangi ketergantungan pada payung keamanan AS. Ia bahkan menyebut angka belanja ideal bisa mencapai dua digit persen dari produk domestik bruto.
Pernyataan itu sekaligus menjadi pengingat keras bagi Eropa bahwa kemandirian pertahanan membutuhkan investasi besar, waktu panjang, dan kesepakatan politik yang solid di antara negara-negara anggota.














