JAKARTA, Cobisnis.com – Pemerintah Iran secara resmi menutup sebagian besar wilayah udaranya bagi penerbangan komersial menyusul meningkatnya ketegangan politik dan aksi demonstrasi di dalam negeri. Kebijakan ini mulai berlaku sejak Rabu (14/1/2026) dan berdampak pada banyak rute penerbangan internasional yang melintas di kawasan tersebut.
Berdasarkan data dari situs pemantau penerbangan FlightRadar24, Iran telah mengeluarkan Notice to Air Missions (NOTAM) yang melarang seluruh penerbangan melintas di wilayah udaranya, kecuali penerbangan internasional yang telah memperoleh izin khusus sebelumnya. Akibat kebijakan ini, sebagian besar maskapai terpaksa mengalihkan rute penerbangannya menghindari wilayah udara Iran.
Peta lalu lintas udara menunjukkan hanya beberapa pesawat yang masih terpantau terbang di atas Iran saat NOTAM diberlakukan. Pada saat pengumuman tersebut, tercatat hanya lima pesawat yang berada di wilayah udara negara itu.
Penutupan sementara ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat, serta gelombang demonstrasi anti-pemerintah di sejumlah kota. Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa Iran telah menghentikan eksekusi terhadap para demonstran, serta memberi sinyal bahwa tindakan militer AS tidak akan dilakukan dalam waktu dekat.
Pernyataan tersebut juga diperkuat oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, yang menegaskan bahwa tidak ada rencana pelaksanaan hukuman gantung terhadap para demonstran. Dalam wawancara dengan media AS, Araghchi menyatakan bahwa situasi di Iran mulai kembali kondusif setelah beberapa hari aksi kekerasan.
Menanggapi kondisi kawasan Timur Tengah, Pemerintah Inggris mengeluarkan peringatan perjalanan dan menyarankan warganya untuk menghindari perjalanan yang tidak penting ke wilayah tertentu di kawasan tersebut.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia terus memantau perkembangan situasi di Iran melalui Kedutaan Besar RI di Teheran.
Berdasarkan laporan terbaru, kondisi keamanan di kota-kota dengan komunitas WNI terbesar seperti Qom dan Isfahan terpantau relatif aman.
Kemlu menyebutkan bahwa sebagian besar WNI di Iran merupakan pelajar dan mahasiswa. Hingga saat ini, pemerintah Indonesia menilai belum diperlukan langkah evakuasi, meskipun kesiapsiagaan tetap dilakukan apabila situasi memburuk.













